Minggu, 03 September 2017

Birthday Trip 2017 : The Beginning

Ini cerita tentang birthday trip. Sepertinya trip semacam ini akan jadi ritual, setiap tahunnya saya akan melakukan satu perjalanan yang ada misinya di hari ulang tahun. Tahun lalu saya lari half marathon untuk pertama kalinya di Maybank Bali Marathon. Tahun ini misi saya adalah menyusuri pulau Jawa dari Barat ke Timur dengan kereta api dan melihat sunrise di ujung timur Pulau Jawa. Misi ini membawa saya ke Banyuwangi. 

Awalnya saya merancang perjalanan ini untuk solo backpacker karena di usia yang sekarang agak susah mengajak kawan-kawan sebaya untuk ikut traveling, karena di umur-umur segini lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan dan keluarga, kebanyakan kawan saya pada punya baby atau balita. Karena itu pula saya memilih lokasi selanjutnya yaitu Ijen. Secara tidak sengaja saya pernah dengan ada bapak-bapak di kantor yang bilang kalau Ijen itu artinya “sendiri”. Seketika itu saya putuskan mau ke Ijen. Kebetulan searah dengan misi matahari terbit. 

Meanwhile lagi di daerah sana, sekalian saja ke Taman Nasional Baluran. Sudah lama saya kepingin kesana, Little Africa in Java. Saya belum pernah ke savana. Tince sudah mendahului saya pergi ke Baluran tahun lalu bersama keluarganya dan menyewa resort disana, jadi saya tinggal ikuti jejaknya Tince. Kalian bisa kenalan lagi sama Tince di postingan birthday trip saya tahun lalu. 

Sebulan sebelum pergi Pagit memutuskan ikut. Setelah cutinya di approved kantor, kami langsung pesan tiket. Diluar dugaan ada satu lagi yang gabung, Susi. Perjalanan yang tadinya saya pikir akan saya jalani sendirian (seperti kemungkinan besar sisa hidup saya beberapa tahun mendatang), berubah menjadi perjalanan pakai hashtag girlsquad atau boleh juga hashtag TimBaluran. 

Rencana awal pulang dan pergi mau pakai kereta, tapi setelah pesan tiket berangkat baru sadar kalau tanggal 1 september - dimana trip berakhir, bertepatan dengan Idul Adha. itinerary pun direvisi. Kami pulang lebih awal 2 hari dari yang direncanakan, menggunakan pesawat dari Surabaya dan menambah satu hari untuk jalan-jalan di kota Surabaya. 

Kami berangkat jam 10 pagi dari stasiun kereta Pasar Senen naik kereta Ekonomi-AC. Saya pernah tulis kalau perkembangan kereta api tahun-tahun belakangan ini luar biasa meningkat, jadi jauh lebih nyaman. Bahkan sekarang kalau mau tukar bookingan tiket tidak perlu antri di loket, langsung print boarding pass di mesin yang sudah disediakan. Keretanya pun sekarang bersih dan dingin karena dipasang AC walaupun kereta Ekonomi. 

Tempat duduk di kereta ekonomi memang lebih padat dari kereta bisnis dan eksekutif, tapi buat saya sih tidak masalah. Apalagi kebetulan kami dapat tetangga tempat duduk yang seru, seorang laki-laki muda dan seorang ibu-ibu dengan anak balita perempuannya. Dengar cerita mereka tentang masa-masa kelam kereta ekonomi jaman dulu, saya jadi makin takjub dengan transformasi PT. KAI. Bukan hanya keretanya, tapi stasiun-stasiunnya terlihat jauh sangat berbeda. Kalau naik kereta di Jawa sekarang sudah tidak kalah dengan waktu saya naik kereta dariMelbourne ke Ballarat di Australia

Tidak ada kereta langsung dari Jakarta ke Banyuwangi, kami harus turun dan ganti kereta dari Jogja atau Surabaya. Karena waktunya lebih pas, maka kami transit di Surabaya dan lanjut naik kereta lain ke Banyuwangi. Kereta dari Jakarta tiba tepat waktu di Stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 1.30 dini hari. Kereta dari Surabaya ke banyuwangi berangkat jam 4 dan tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 11. 

Keluar dari stasiun kami di sambut oleh orang-orang yang menawarkan transport ke kota. Ternyata kotanya jauh dari stasiun banyuwangi baru, tapi kalau mau ke Pelabuhan Ketapang tinggal menyebrang jalan. Kami melewati semua orang yang menawarkan transport tapi ada satu bapak-bapak di angkot yang saya tanya, apakah angkotnya lewat ke hotel watu dodol atau tidak. Disitu tempat kami menginap. Ternyata tidak lewat, tapi si bapak menawarkan untuk mengantar. 

Awalnya kami mengelak dengan bilang mau cari makan dulu karena lapar. Kami jalan sampai ke jalan raya dan makan di depot dekat stasiun. Ketika kami keluar mau menunggu angkot, tiba-tiba si bapak angkot kuning muncul. Ya akhirnya kami naik angkot itu juga, dengan membayar 20 ribu per orang hingga tiba ke hotel. Kelak angkot kuning itu pula yang mengantar kami hingga ke Taman Nasional Baluran.

TimBaluran dan angkotnya (photo credit: susi)


Sabtu, 19 Agustus 2017

Braga 2017, Bonus Lari Pagi

Postingan pertama blog ini tentang Braga, tepatnya tentang Braga Permai, sebuah restoran yang sudah ada sejak jaman Belanda. Posting pertama saya itu ditulis tahun 2008, kira-kira 9 tahun yang lalu. Keadaan Jalan Braga saat itu dan sekarang jauh beda banget. Dulu banyak bangunan-bangunan tua disepanjang Braga yang tidak terurus, sekarang sudah di make-over jadi cantik dan rapi. 

Tahun 2009 saya sebenarnya balik lagi ke Braga, waktu itu ngajak kawan saya, Carly dari Australia jalan-jalan naik becak dari Naripan ke Braga. Waktu itu juga bangunan-bangunan tua sepanjang jalan itu masih kusam tak terurus. Keadaan mulai tampak beda sejak saya kembali ke Braga beberapa tahun kemudian, kayaknya  sekitar 2014 atau 2015. Waktu itu saya janjian ketemu sama Mami bule Norwegia untuk pertama kali hingga setelahnya saya sempat menemani beliau setiap ada urusan pekerjaan di Indonesia. Beliau menginap di Fave Hotel Braga waktu itu, terus kami menyebrang makan di Braga Permai. Nah saat itu mulai tampak rapi.

Minggu lalu saya ada urusan pekerjaan ke Bandung, pergi sendirian. Karena perjalanan Jakarta-Bandung akhir-akhir ini sangat melelahkan akibat kemacetan menggila di Cikampek maka saya niat mau menginap semalam. Lihat di website booking hotel, ternyata Hotel Fave Braga ratenya lumayan, reasonable. Langsung saja saya booking. 

Ini pengalaman pertama saya menginap di Jl. Braga Bandung layaknya turis. Selesai rangkaian meeting di Bandung saya sempat mampir ke salah satu kenalan saya yang buka pop-up cafe di kawasan buah batu bandung, Brewang Cafe. Baru agak malam saya ke Braga. 

Fave Hotel adalah salah satu budget hotel yang fasilitasnya lengkap, kalau buat saya yang penting ada pemanas air di kamar untuk bikin kopi. Sebenarnya saya mempertimbangkan dua hotel budget di kawasan Braga sebelum booking Fave, salah satunya juga chain hotel terkenal. Tapi akhirnya saya pilih Fave karena dengan rate yang tidak jauh beda, yang satu lagi kamarnya lebih menyedihkan, kamar mandinya tidak pakai ruangan, hanya kapsul dan tidak ada televisi.

Saya sempat cek daftar menu makanan yang ada di kamar, harganya gak mahal loh, wajar banget. Tapi karena letaknya di dalam mall Braga Citywalk, keluar sedikit juga banyak makanan. Ada KiosK, Starbuck, Wendy's. Di sepanjang jalan braga juga banyak tempat makan dan nongkrong yang baru, Warung Nasi Ce'Mar juga buka cabang di Jl. Braga.

Setelah check-in saya langsung ganti kostum celana pendek dan jalan menyusuri Braga hingga ke Jl. Asia-Afrika. Sempat pangling lihat Alun-Alun yang juga sudah di make-over. Atas nama kenangan masa muda saya memutuskan makan malam di warung Ce'mar lokasi lama. 

Braga

Alun-alun Bandung

Warung C' Mar
Paginya saya janjian sama senior saya waktu kuliah, Mba Dini, lari pagi keliling Braga. Bukan hanya saya yang punya pikiran begitu, banyak juga orang yang olahraga disekitar kawasan Braga dan Asia Afrika, padahal waktu hari kerja, bukan weekend. Ternyata pagi-pagi disitu masih dingin loh. 

Saya bisa lihat fenomena sadar hidup sehat makin marak akhir-akhir ini. Beberapa tahun lalu kalau saya ingat-ingat jarang banget lihat orang pakai baju olah raga berkeliaran di jalanan. Waktu awal saya mulai lari lagi kayaknya orang yang lari-lari di komplek cuma saya doang, ada sih opa-opa yang suka papasan lagi jalan pagi. Tapi sekarang komplek rute lari saya kalau sabtu dan minggu pagi ramai orang olahraga. Begitu pula di taman belakang kantor, dulu banyaknya opa-opa dan oma-oma aja, sekarang ramai banget sampai larinya harus zig zag. Senang saya lihatnya, jadi makin semangat berolahraga.

Rute lari

Bandung bukan cuma masalah geografis

Sabtu, 12 Agustus 2017

Trip ke Gunung Sumbing edisi Lama di Jalan

Kemacetan di ibukota Jakarta memang makin lama makin parah karena banyak pembangunan tumpang tindih. Tapi ternyata fenomena kemacetan sudah merambah keluar kota Jakarta, khususnya saat-saat liburan long weekend. Hal ini mungkin juga karena di era internet, kesadaran orang Indonesia berwisata makin meningkat, ditambah dengan makin banyaknya orang-orang yang melihat peluang ini dan kemudian bikin macam-macam bisnis yang berhubungan dengan wisata.

Kalau ke Bandung sekarang-sekarang ini malah gak perlu saat long weekend atau weekend saja, hari biasa pun macet setengah mati karena pembangunan di jalan toll Cikampek. Normalnya kalau dari rumah saya langsung ke Bandung hanya memakan waktu 2,5 jam, sekarang bisa 4 jam lebih. Dulu saya kalau ke Bandung bisa pulang-pergi sehari, sekarang sih kalau nyetir sendiri rasanya tidak sanggup. Lelah.

Beberapa bulan kemarin, saya diajak ke gunung sumbing. Kebetulan waktunya bertepatan dengan long weekend, tanggal merah di hari senin. Jadi kami sewa mobil, berangkat jumat malam. Estimasi waktunya kami sudah akan tiba di area wonosobo siang hari. Sore hari mulai naik dari Bowongso dan bermalam di pos1, paginya kami akan meneruskan perjalanan hingga puncak. 

Kenyataannya kami terjebak kemacetan selama 15 jam, jadi baru tiba di Basecamp Bowongso sore hari, disaat kondisi hujan deras. Akhirnya diputuskan tidak jadi berangkat karena sudah terlalu gelap. Bowongso terkenal dengan kopinya, salah satu tujuannya memang sekalian berkunjung ke tempat roasting kopi bowongso. Jadi malam itu kami hanya ngopi-ngopi kemudian kembali ke basecamp dan tidur. Keesokan paginya baru mulai mendaki.

Menimbang kondisi jalanan yang sudah pasti akan macet juga ketika pulang ke jakarta, jadi memang diputuskan tidak akan sampai puncak. Perjalanan hanya berhenti sampai Pos 1, kemudian kami mendirikan tenda. Kawan-kawan saya mulai masak, sementara saya hanya duduk-duduk sambil nonton kawan saya yang berusaha masak nasi tapi gak mateng-mateng. Setelah mereka masak selama 3 jam lebih akhirnya makan juga, menu nasi gak mateng dan jengkol. Saya yang gak makan jengkol cukup puas dengan makan nasi gak mateng dan telor dadar. 

Menjelang malam turun hujan, jadi kami hanya tidur-tiduran di dalam tenda. Ketika hujan berhenti cuaca dingin mulai menyerang, berusaha bikin api unggun supaya hangat tapi usaha yang sia-sia karena ranting-ranting yang mau dipakai untuk bikin api lembab semua. Akhirnya kami pasrah kedinginan. Malam itu entah kenapa dingin banget, saya sudah tidur pakai 3 lapis baju tapi masih tetap menggigil. Rasanya lama banget nunggu pagi.

Ke gunung cuma numpang masak jengkol

 Macetnya lebih lama dari trekingnya
Ketika akhirnya pagi datang dan matahari mulai muncul saya langsung jemuran. Enak banget kena hangatnya sinar matahari, maklum saya kan gadis tropis yang gak kuat banget sama yang namanya dingin. Gak sampai nunggu siang kami sudah jalan turun kembali ke basecamp karena mengejar waktu supaya bisa tiba di Jakarta senin malam. Selasa kan sudah pada mau ke kantor semua. Salah satu dari kami malah harus mengejar pesawat jam 7 pagi, jadi harus sudah tiba di rumahnya jam 4.

Disini pertama kali saya pakai Garmin Forerunner saya buat tracking di gunung. Pas lihat kilometernya lumayan nyesek sih, effortnya sama kayak lari 20km tapi ternyata cuma jalan 2,5 km, waktunya juga. Mungkin karena elevasinya. Setelah di sync di aplikasi Garmin Connect bisa kelihatan map-nya, malahan bisa kelihatan puncak gunung yang harusnya kami tuju kalau tidak ada acara kelamaan kena macet di jalan. Saya jadi makin pengen cobain trail running.

Berangkat dari Bowongso sekitar jam 1 dan benar saja, macet parah sama seperti ketika berangkat. Untungnya kali ini saya gak kebagian nyetir, jadi walaupun duduk paling belakang dijepit sama carrier2 segede gaban, saya tidur aja sepanjang jalan. Jadi itu liburan cuma mindahin waktu tidur saya dari kasur ke mobil. Pas banget jam 4 kawan saya itu dihantar di muka rumahnya. Sementara saya baru sampai di rumah jam setengah 6, langsung mandi dan berangkat ke Cileungsi. 

Nah, sampai sekarang saya masih trauma kalau ada yang ngajak jalan ke luar kota pas long weekend. 



Selasa, 01 Agustus 2017

Birthday Month Come too Fast

Ya ampun. Gak berasa udah Agustus lagi. Tambah umur lagi. Rasanya kayak baru kemarin deh ikut Bali Marathon dalam rangka Birthday Run dan pakai dapat surprise segala dari mba-mba Restoran Pizza di sanur. 

Tahun ini saya genap 35, eh itu angka ganjil ya bukan genap. Serius gak berasa. Dua minggu lalu sudah cat rambut untuk nutup uban. Setiap hari harus struggle dengan kantung mata. Tapi sih saya bangga ya berhasil mencapai umur segitu melalui perjalanan hidup yang berliku-liku, menanjak, turunan, tapi gak jarang dihibur dengan pemandangan yang luar biasa indah dan banyak juga kebodohan-kebodohan yang kalau diingat malah jadi pengalaman yang lucu. 

Bulan ini saya sudah merancang suatu birthday trip, tapi nanti aja deh dikasih tau nya. Setelah 6 bulan dari bulan Januari saya sempat banyak melenceng dari kehidupan normal tapi sejak bulan juli saya merasa seperti pulang kembali ke kehidupan yang lama. 

Ketemu lagi sama teman-teman yang ngertiin saya, kembali ke daerah tebet yang sudah seperti rumah kedua saya selama hampir 7 tahun, mulai lari rutin, mulai punya rencana kembali berkebun walaupun yang ini masih sulit terlaksana. Tapi downsidenya, sekarang saya harus kembali menghadapi hal yang membuat saya pergi dulu. Tapi mungkin sekarang saya lebih kuat walaupun tidak tahu kali ini akan bertahan berapa lama.

Sekarang saya lagi senang main instagram lagi. Setelah bosan dan gak pernah buka-buka twitter dan facebook, sempat juga agak bosan sama instagram. Jadi sebelumnya lebih banyak main Path, tapi sekarang udah bosen sama Path dan kembali ke instagram sejak ada instastory. Narsis-narsis sendiri pantang menyerah walaupun gak ada yang view..hehee.. tapi kalau lagi iseng follow instagram saya donk @milasaid trus view instastory saya, kadang ada tentang berkebun, ada tempat nongkrong ciamik, makanan-makanan enak, kalau lagi sial ya palingan liat saya lagi lipsinc atau cover lagu pakai ukulele.


Jumat, 07 Juli 2017

Beach Squad Tanpa Arah Terdampar di Pantai Kerang

Mendekati akhir libur lebaran kemarin saya diajak ke Pantai oleh dua kawan yang saya kenal beberapa bulan lalu di perjalanan ke Gunung Sumbing. Oia saya belum ceritain soal pergi ke gunung sumbing, nanti yaaaaa setelah postingan ini. 

Misi dari perjalanan ini pokoknya menyusuri pantai mulai dari Anyer ke arah Tanjung Lesung sampai sejauh-jauhnya, dibatasi waktunya oleh matahari terbenam. Dari perbatasan bekasi kami mulai perjalanan sekitar jam setengah 11 siang. Waktu itu jalanan relatif lengang. Bahkan yang biasanya saat liburan ramai pengunjung di kawasan anyer-carita, ini cenderung sepi. Mungkin karena ada toll baru Cipali jadi jangkauan libur orang-orang yang berkendaraan lebih tersebar sampai ke area yang lebih jauh. Mungkiinnn...

Dari Jakarta sampai Anyer kami tempuh dengan jarak kurang dari 3 jam, memang sudah lewat sedikit dari jam makan siang, perut kami sudah kukurunutumu. Tidak jauh dari Mercusuar Anyer, kami berhenti di salah satu restoran seafood untuk makan siang. Menu yang kami pesan untuk bertiga ternyata banyak banget, tapi hampir ludes juga, cuma sisa dikit sop gurame yang akhirnya dibungkus dan ikut di sisa petualangan mengejar sunset. 

Kawasan Pantai Carita tampak lebih ramai turis lokalnya daripada Anyer, khususnya di pantai umum yang ada water sport. Kami terus melewati Pantai Carita hingga tiba di kawasan Pandeglang. Garis pantai sudah tidak tampak di sisi jalan, diganti oleh persawahan. Warta, yang nyetir bertanya ke para penumpang, "lanjut atau puter balik?". Para penumpang, saya dan entin menjawab kompak,"lanjuutt."

Ketika jam menunjukan pukul 4 sore kami sudah melewati daerah Labuan, menurut papan penunjuk tanjung lesung tinggal 33 km lagi. Saat itu kami lumayan optimis bisa sampai di tanjung lesung sebelum sunset. Tapi ada yang salah dengan pengukuran jarak karena di sepanjang jalan berubah-rubah. Beberapa saat kami jalan ketemu papan penunjuk dengan tulisan Tanjung Lesung tinggal 10km lagi. Tapi beberapa kilometer, ada papan penunjuk lagi yang tulisannya Tanjung Lesung 13 km. Lah kog makin jauh. Di depannya lagi malah tambah jauh: Tanjung Lesung 19 km. 

Akhirnya jam setengah 5, menurut GPS, kami masih sekitar 15km lagi dari Tanjung Lesung. Kami pun menyerah dan masuk ke pantai umum terdekat, Pantai Kerang. Ya memang gak sebagus tanjung lesung sih, pasirnya gak putih dan sesuai namanya banyak kerang-kerang kecil. Yang penting mission accomplished: Sunset di Pantai.  

Beach Squad

Sunset di Pantai Kerang, Pandeglang


Senin, 26 Juni 2017

Idul Fitri 1438 H

Lebaran kali ini buat saya unik. Bukan karena lebaran kali ini saya mudik lagi. Secara rutinitas lebaran ini hampir sama seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya kalau kami sekeluarga tidak mudik. Tapi secara personal, buat saya berbeda.

Lebaran kali ini jatuh di pertengahan tahun 2017, yang sekaligus merupakan titik balik dalam kehidupan saya lagi setelah 6 bulan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan saya 6 tahun belakangan. Saya merasakan lagi kerja kantoran. 

Akhir tahun 2016 saya sempat merasa hilang arah seperti GPS tanpa sinyal. Tiba-tiba ada telpon yang menawarkan saya kerja kantoran, yang sejak tahun 2010 sudah tidak saya lakukan. Saya pikir perubahan dalam hidup bisa membantu saya menemukan arah dan yang saya harap bisa bikin mood tidak suram lagi. Saat itu saya gak tahu kenapa saya merasa sedih

Atau mungkin sebenarnya saya tahu kenapa, tapi masih belum siap untuk mengakuinya. Jadi masih dalam tahap self-denial. Sampai beberapa waktu lalu saya sadar bahwa ini adalah sebuah pola, perasaan sedih saya akan berakhir saat saya menemukan hal baru yang bisa mengalihkan pikiran, sampai kamu datang lagi dalam kehidupan untuk kemudian menghilang lagi dan saya sedih. Dan hal itu adalah suatu pola yang berulang-ulang, seperti siklus yang muter-muter tidak ada akhir.

Attachment is the root of suffering, salah satu quotes yang sering saya lihat. Saya bukan attached sama hal-nya, tapi saya attached sama perasaan saya sendiri terhadap hal-nya. Itu yang bikin saya suffering walaupun saya udah coba menyadarkan diri sendiri untuk let go. Mudah untuk let go hal yang lagi gak ada di sekitar kita, tapi ketika hal tersebut datang lagi dan kita sudah tersentuh dan sempat menggenggamnya, sulit buat ngelepasin. Walaupun yang kita genggam itu hal yang abstrak, gak berbentuk, misalnya harapan atau mimpi. 

Mungkin saya hanya perlu menemukan hal baru untuk pengalihan perhatian. 

Masa kontrak percobaan saya di kantor baru itu adalah 6 bulan, dimulai bulan Januari 2017, maka berakhir di Juni 2017. Saya juga tidak hitung-hitung bulan waktu itu, ternyata momennya pas mau lebaran. Jadi saya perpisahan sama rekan-rekan kantor tersebut sambil mengucapkan minal aidin wal faidzin. Menurut saya masa percobaan itu bukan hanya untuk perusahaan tapi untuk karyawannya, jadi ketika saya coba dan ternyata hal itu tidak bikin saya bahagia, saya memutuskan untuk mundur. 

Selama 6 bulan saya tidak mampu mengatur waktu untuk hal yang saya sukai, seperti berkebun dan lari. Makan saya juga berantakan, mobil saya berantakan dan hidup saya tambah berantakan. Setiap mau ke kantor itu saya harus menempuh jarak 40km sekali jalan, bolak-balik 80km. Mungkin harusnya 6 bulan itu adalah masa penyesuaian, dan kalau saya sabar lanjutkan 2 atau 3 bulan lagi mungkin saya sudah bisa menemukan ritme yang pas. Tapi saya putuskan untuk berhenti saja.

Setelah cuti lebaran usai, banyak sekali hal yang harus saya beresin entah mulai darimana dulu. Mungkin mulai dari beresin kebun....

ohiya...

Minal Aidin Wal Faidzin,
Selamat Idul Fitri.
Mohon Maaf Lahir Batin.


Minggu, 18 Juni 2017

Ayam Goreng yang berubah menjadi Opor

"This is not a love story, this is a story about love." - quote taken from movie 500 days of summer.

Dulu saya pernah cerita tentang sejarah hewan-hewan peliharaan yang sempat singgah dan mewarnai kehidupan saya di postingan Peliharaan-Peliharaan Tante . Yang belum baca bisa di klik link nya. 

Sekarang saya mau cerita tentang kisah memilukan salah satu hewan peliharaan yang saya sayang banget. Dia adalah seekor anak ayam yatim piatu sebatang kara yang ibunya mati tidak lama setelah dia baru menetas, walaupun gak bayi-bayi amat tapi masih dalam usia belum mampu hidup mandiri sepenuhnya. Bapaknya entah yang mana. Sementara induk ayam lain tidak ada yang mau mengadopsinya, bahkan gerombolan anak-anak ayam selalu kabur berpencar kalau dia menghampiri. 

Biasanya kan anak-anak ayam tidurnya di bawah sayap induknya, tapi karena tidak ada induknya dia terlunta-lunta hingga terdampar di teras. Itu pun dia sulit tidur karena teras sangat terang dan dia gak menemukan posisi yang enak dan hangat untuk tidur sendiri. Karena itu dia hanya mampu berciap-ciap di malam hari. Suara ciapannya sangat memilukan bak sembilu menyayat-nyayat lubuk hati yang paling dalam, kedengaran jelas ke dalam kamar saya. Karena gak tega saya menghampiri anak ayam tersebut, ketika saya ambil dia langsung melompat ke pundak saya dan tertidur. Sempat khawatir di e'ek-in sih, ayam kan sebelum bobo biasanya e'ek. 

Saat itu juga, di saat dia tertidur lelap di pundak itu, saya langsung jatuh sayang dan memberinya nama Ayam Goreng. 

Malam-malam berikutnya dia tidur sendirian dalam kandang kecil yang dibuat Papa Said, diletakan di teras tapi di pojokan yang gelap. Tapi Ayam Goreng kecil masih saja suka melompat ke pundak saya dan bertengger disitu, seolah-olah dia merasa seperti bayi naga di film Games of Throne, dan saya otomatis merasa seperti Daenerys Targeryien. Alih-alih the mother of dragons, saya jadi the mother of ayam. 

The mother of dragon
The mother of ayam
Ayam Goreng tumbuh menjadi seekor ayam jantan remaja yang tampan, dengan warna hitam dihiasi semburat putih yang berkilauan bila ditimpa sinar matahari. Setiap pagi ketika saya keluar rumah Ayam Goreng akan selalu lari menghampiri minta di elus-elus, persis kayak punya anjing. Begitu pula ketika saya pulang kantor, turun dari mobil dan buka pagar saya akan memanggilnya: 

Ayam Goreeeeeeeeeng.......

Apa pun kesibukannya lagi ngais-ngais dimanapun pasti akan segera dihentikan dan berhambur lari sekencang-kencangnya dengan sepasang cekernya untuk menghampiri saya. 

Kalau saya lagi mondar-mandir dihalaman, atau mau ngurusin kebun, dia akan selalu ngikutin di belakang. Kalau saya tiba-tiba berhenti, gak jarang kepalanya kejeduk betis saya. Seperti biasa Papa Said selalu ganti-ganti nama hewan peliharaan yang saya kasih kan, Ayam Goreng pun diganti jadi Ayam Bakar. KZL. 

Hingga suatu hari yang kelam kelabu, seharian perasaan saya udah gak enak. Ketika sampai di rumah sorenya, saya buka pagar kemudian panggil-panggil:

Ayam Goreeeeng.... Ayam Goreeeng...

Tapi Ayam Goreng tidak tampak dimanapun. Saya pun cari-cari di seluruh penjuru halaman, di pojok-pojok kebun, di semua kandang ayam Papa Said, di atas pohon. Tapi Ayam Goreng was nowhere to be found. Perasaan saya makin gak enak. 

Ketika masuk ke dapur, saya lihat di meja makan ada opor ayam. Saat itu rasanya kayak ada yang meremas hati saya. Insting saya langsung mengatakan kalau yang di atas meja makan itu adalah Ayam Goreng yang telah dimasak jadi Opor. Saya gak berani tanya, takut perasaan saya makin hancur mendengar kenyataan yang diutarakan secara eksplisit. Dengan langkah lunglai saya langsung masuk kamar dan tidak pernah memandang opor itu untuk kedua kalinya.


Minggu, 04 Juni 2017

Cihampelas Skywalk

Bandung...Bandung...Bandung

Selalu saja ada terobosan-terobosan baru yang mengundang orang untuk berkunjung ke Parisnya Java tersebut. Saya ingat waktu saya kecil Bandung terkenal dengan pusat wisata belanja jeans di Cihampelas dan wisata belanja sepatu kulit dan tas kulit di Cibaduyut. Kemudian jaman saya kuliah disana trend beralih menjadi pusat wisata belanja Factory Outlet dan wisata kuliner. 

Sekarang walaupun era Factory Outlet sudah menurun drastis tapi saban weekend dan hari libur lainnya Bandung senantiasa ramai oleh wisatawan. Mungkin sekarang trendnya lagi wisata alam-alaman di sekitar Kota Bandung seperti ke Lembang, Ciwidey dan Dago. 

Sejak Pak RK jadi walikota, kota ini jadi makin unik, didandanin macem-macem. Salah satu yang lagi jadi tren adalah Cihampelas Skywalk atau bahasa Indonesianya Teras Cihampelas. Bangunan ini semacam jembatan selebar jalan yang membentang sejauh 450 meter diatas Jalan Cihampelas. Diatasnya ada taman-taman kecil, tempat duduk, kios-kios yang menjual makanan dan cinderamata. 

Beberapa waktu lalu saya ke Bandung untuk urusan pekerjaan saya sempatin untuk singgah. Waktu itu saya belum tahu pasti apa yang ada diatasnya, paling hanya lihat foto-foto instagram orang. Saya juga belum tahu lokasinya. Jadi waktu itu saya ke Bandungnya naik travel, gak bawa mobil sendiri. Sehabis meeting sama klien di daerah Pasteur, saya naik angkot sampai Cihampelas. Tapi angkot yang saya tumpangin tidak ke arah Cihampelas, saya harus ganti angkot di persimpangan gadog. Karena saya belum tahu letaknya, jadi saya putuskan jalan kaki saja sepanjang Cihampelas, ternyata lumayan jauh. Lewatin Rumah Sakit Advent kalau dari arah gadog. 

Struktur Cihampelas Walk tersebut benar-benar menaungi jalan raya, mobil-mobil lewat dibawahnya. Saya kesana di hari kerja siang-siang, jadi gak lihat macet. Saya jalan-jalan aja diatasnya. Lucu juga. Warna warni dan banyak tanaman, mudah-mudahan dirawat dengan baik supaya gak cepat kusam. Saya sempat makan siang batagor diatas situ. Yang paling penting, saya sudah tidak penasaran lagi. 




Sabtu, 13 Mei 2017

Jelajah Subang, Ciater dan Takubanparahu

Sejak ada toll baru Cipali ke Subang jadi lebih cepat dan kayaknya lebih dekat juga karena potong jalan. Dulu sebelum ada toll Cipali kalau mau ke Subang lewat Purwakarta, lewatin jalan meliuk-liuk dan hutan-hutan di daerah kalijati. Jalannya tidak begitu besar dan kalau jam masuk dan bubaran pabrik di daerah industrinya yang banyak pabrik tekstil macet banget karena jalanan diserbu ribuan pekerja-pekerja lalu lalang diantara truk-truk kontainer segede gaban. Kalau mau tanya gaban itu segede apa, ya segede truk kontainer.

Nah sekarang kalau dari toll Cipali langsung exit Subang, tidak jauh dari pusat kotanya. Tidak jauh dari exit toll menuju kota subang ada rumah makan nasi liwet yang asik, Saung Liwet Kang Nana. Tempatnya di pinggir sawah dan nasi liwet disajikannya masih di castrol, enak banget. 

Tapi tujuan saya kemarin-kemarin itu bukan ke Kota Subang, melainkan masih lanjut terus dari kotanya ke arah Bandung, tepatnya ke daerah Ciater. Yak betuuull.. Ciater pusat pemandian air panas. Dulu waktu masih kuliah di Bandung saya beberapa kali ke Ciater, lewat Lembang. Sudah jelas kondisinya sudah tidak seramai sekarang. Kebetulan tempat yang saya kunjungi untuk urusan pekerjaan berada di seberang Resort Sari Alam. 

Sari Alam Hot Spring and Resort Hotel adalah suatu kompleks yang didalamnya banyak terdapat titik-titik pemandian air panas alami, yang panasnya berasal dari panas gunung berapi. Di dalamnya juga ada Curug Jodo yang menurut legenda tempat Sangkuriang pertama kali melihat Dayang Sumbi dan naksir, tanpa tahu kalau sebenarnya itu adalah ibu kandungnya sendiri. Saya gak sempat masuk ke dalam kawasan curugnya, tapi karena manager resort adalah kenalan kawan saya, kami sempat dibawa keliling komplek resort pakai odong-odong. 

Tempatnya asik sih buat istirahat, selain untuk berendam air panas, fasilitas-fasilitas lain juga komplit. Ada tempat outbond, tempat main golf mini, tempat main ATV offroad, bahkan ada tempat glamping - glamour camping. Waktu itu kami diajak keliling sore hari, siangnya habis hujan deras, kabut mulai turun, jadi dinginnya pakai banget, apalagi di odong-odong terbuka yang anginnya sembriwing.

Dari kompleks utama resort ke daerah Glamping lumayan jauh, lewatin jalan offroad dengan view barisan gunung-gunung yang spektakuler. Namanya juga Glamour ya... ini tuh tenda nya di dalam gazeboo, jadi ada lantainya dan ada atapnya supaya tidak kedinginan dan kehujanan. Di dalam tendanya ada bed, bantal, selimut jadi tidur tetap nyaman. Di luar tenda ada kulkas dan kompor untuk masak. Aahh.. memang nikmat banget hidup glamour walaupun camping yah. 

view dari komplek resort ke kawasan glamping
Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke ciater, kali ini untuk menghadiri undangan meeting. Acara meeting selesai lebih cepat, hari belum sore-sore amat, masa langsung balik ke Jakarta. Saya pun berhasil menghasut supir kantor untuk mengantarkan saya jalan-jalan ke Takuban Parahu. 

Kayaknya saya ke Takuban Parahu udah lama banget, waktu masih SD, jadi lupa bagaimana bentuknya disana. Tapi saya ingat ada foto bareng keluarga di depan kawah, tentunya waktu jaman kamera masih pakai roll film. Jadi foto-fotonya dikit, soalnya pas jaman itu kalau foto mikir kuota filmnya dan mikir cetak fotonya musti bayar lagi kalau foto kebanyakan, jadi pas jaman itu kalau mau foto musti selektif dan untung-untungan. Udah cuma foto dikit, pas dilihat hasilnya ternyata blur, nyesek.

Sampai sekarang saya masih gak ngerti soal bentuk perahu terbaliknya. Kalau kebetulan lewat daerah yang bisa kelihatan gunung Takuban Perahu suka dikasih tunjuk, itu gunung yang bentuknya seperti perahu terbalik. Mungkin karena imajinasi saya kurang atau mungkin juga karena tidak ingat bentuk perahu terbalik seperti apa jadi sampai sekarang masih belum bisa grasp the idea. Eniwei, legendanya adalah itu memang perahu yang dibuat oleh Sangkuriang atas permintaan Dayang Sumbi. Ingat kan tadi Sangkuriang falling in love at first sight begitu lihat Dayang Sumbi di Curug Jodo itu? Nah ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya sendiri. 

Kisah keluarga ini memang cukup rumit dan menjadi bukti kalau masyarakat indonesia sudah gandrung sama tipe-tipe cerita sinetron dari sejak jaman Televisi belum ditemukan dan Punjabi belum menjadi empire yang menguasai dunia persinetronan nasional. Sangkuriang diusir sama Dayang Sumbi waktu kecil karena membunuh anjing peliharaan keluarga yang ternyata adalah *jeng jeng jeng* adalah ayah kandungnya. Dia memberikan hati anjing yang bernama si Tumang itu ke Dayang Sumbi dan bilang kalau itu hati menjangan, kemudian dimasak dan dimakan sama Dayang Sumbi. Begitu tau itu adalah hati si Tumang yang adalah juga suaminya, bukan sekedar anjing peliharaan keluarga, Dayang Sumbi marah, memukul Sangkuriang pakai centong di kepala dan mengusirnya.

Tapi ketika Sangkuriang pergi, Dayang Sumbi menyesal dan berdoa agar suatu saat nanti di pertemukan lagi sama anaknya. Untuk menjaga dirinya agar berumur panjang dan gak gampang sakit, Dayang Sumbi berubah jadi vegan, cuma makan sayuran dan daun-daunan. Efeknya adalah beberapa tahun kemudian Dayang Sumbi masih tampak muda dan langsing seperti gadis belia. Mungkin selain vegan dia juga ngelakuin yoga dan pilates. 

Ketika Sangkuriang lihat Dayang Sumbi di curug jodo, dia gak nyangka kalau itu ibunya, soalnya dia mikir pasti ibunya kan sudah tua. Yah jaman itu memang belum jamannya hashtag hot momma, dan jelas-jelas Sangkuriang belum tau ada yang namanya Sophia Latjuba. Tapi Dayang Sumbi sadar itu anaknya karena lihat bekas pukulan bentuk centong dikepalanya. Jadi untuk menolak Sangkuriang secara halus, Dayang Sumbi minta dibuat bendungan yang membendung sungai citarum dan perahu dalam waktu semalam. 

Dayang Sumbi pikir itu hil yang mustahal, tapi Sangkuriang ternyata adalah kontraktor handal. Sebelum pagi proyeknya sudah hampir selesai. Dayang Sumbi panik kemudian dapat ide untuk bikin sinar fajar palsu dari kain putih. Melihat itu jin-jin anak buah Sangkuriang pikir kalau sudah mau pagi dan mereka bubar. Sangkuriang marah kemudian menendang perahu yang hampir jadi tersebut dan berubah jadi gunung Takuban Parahu.

Jadi inti dari kisah ini adalah, kalau mau awet muda cobalah diet vegan, hanya makan sayur dan lalapan seperti Dayang Sumbi.

Kawah Takuban Parahu




Jumat, 28 April 2017

Jalan-jalan di Ibukota sama Mommy Bule

Mommy bule keturunan Viking dari Norwegia ini orangnya luar biasa, saya nge-fans. Di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, beliau sudah bikin perusahaan sendiri untuk menegerjakan pekerjaan konstruksi terowongan menggunakan metode yang dikembangkannya pada saat penelitian Doktor. Usianya sepantaran Papa Said, tapi saya aja kalah lincah sama beliau. Masih semangat manjat-manjat bukit sendirian di lokasi proyek sementara saya ngopi di warung. 

Kisah awal saya bisa kenal dengan mommy bule ini bermula 4 tahun lalu. Berawal dari perkenalan saya dengan Felicity, blogger yang menikah dengan orang Norwegia dan tinggal disana. Saya sudah beberapa kali kopdar sama dia ketika pulang ke Indonesia, hingga suatu ketika Feli datang bersama suaminya, T, dan dikenalkan ke saya. Ngobrol-ngobrol ternyata bidang pekerjaan kita berkaitan, sama-sama di bidang konstruksi. T sempat mampir ke kantor saya juga waktu itu.

Saya lupa kapan tepatnya setelah pertemuan dengan Feli dan T, dia menghubungi saya melalui e-mail. Katanya ada rekan ayahnya, T Senior, yang lagi sendirian di Indonesia. Kalau ada waktu dia minta saya menengok keadaan rekan T Senior, saya diberikan kontaknya. Ternyata yang bersangkutan lagi di Bandung untuk dalam rangka mengejar suatu pekerjaan pembangunan terowongan. Kebetulan waktu itu lagi ada waktu luang jadi saya menghampiri ke Bandung dan sejak itu hubungan kami berlanjut hingga sekarang saya sudah anggap beliau mommy saya sendiri, mommy bule. Saya udah kayak anak angkatnya. 

Malahan tahun lalu Mommy bule dua kali berkunjung ke Indonesia membawa anak laki-lakinya. Waktu baru datang anaknya kaku dan dingin banget. Senyum aja pelit. Setelah 3 hari kena sinar matahari tropis yang hangat, sate, nasi padang dan gurame bakar, jadi cengengesan melulu. 

Awal tahun lalu Mommy bule kembali ke Jakarta sendirian. Kami sempat ke Bandung untuk melihat lokasi proyek, kemudian balik ke Jakarta. Sebelum pulang ke Norwegia saya sempat mengajak beliau jalan-jalan sore di Jakarta dengan fasilitas umum. Kita ke Kota Tua. Perginya naik Bus Transjakarta dari hotel Bidakara. Pulangnya naik Kereta Commuter Line dari Stasiun Kota ke Stasiun Cawang, Makan bakso di TIS, kemudian naik Bajaj kembali ke hotel.

Di Kota Tua

Naik Commline
Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan kemajuan yang berarti dari sistem transportasi umum di Jakarta. Walaupun masih banyak kekurangan dan komplain tapi sudah mulai kelihatan terkoneksi. Lebih baik terlambat daripada tidak kan? 

Di Stasiun Kota waktu mau beli tiket commuter line saya sempat norak lihat mesin beli kartu seperti di Singapura. Mommy bule juga tampak kagum. Beliau tampak senang dan memuji adanya tempat khusus perempuan di Bus Transjakarta dan gerbong khusus perempuan di Commline. Kebetulan aja waktu itu perginya pas hari libur, jadi berasa nyaman. Kalau pergi di hari kerja di jam rush hour mana bisa selfie sambil nyengir di dalem kereta. 

Rabu, 26 April 2017

Jangan-Jangan Masalahnya di Gue

Tahun lalu saya merasa mulai bisa menata hidup. Punya kegiatan berkebun yang menyenangkan di waktu luang. Mulai bisa mengatur pola makan sehingga badan terasa jauh lebih bugar, lebih ringan dan segar. Punya energi lebih untuk lari minimal dua kali seminggu, kadang diselingi sama berenang, Yoga. Saya juga baca banyak buku dari Scribd.com. Ikut Online course gratisan di Coursera. 

Saat itu memang ada negative vibe yang sedang saya perangi dengan positivity, walaupun struggling tapi saya tetap bisa survive dari hal negatif tersebut. Kemudian datanglah suatu momen secara tiba-tiba, yang saya pikir bisa membebaskan dari struggle itu. Saya pikir, this is it, akhirnya saya bisa meninggalkan kenegatifan yang ada di hidup saya, bisa mulai menata hidup, memikirkan masa depan sambil terus mempertahankan kebun, pola makan dan aktifitas lain. 

Hari pertama di hari yang saya pikir adalah awal dari masa depan yang lebih baik saya mulai punya perasaan gak enak. Kayak ada sesuatu yang salah. Satu bulan saya jalani, saya yakin kalau memang ini sesuatu yang salah. Ibarat lompat dari mulut buaya ke mulut singa, negative vibe tahun ini jauh lebih berat dari tahun lalu. 

Saya jadi berpikir, ini jangan-jangan masalahnya ada di gue. 

Tapi, apa?

Apa masalah yang ada di diri saya?

Itu pertanyaannya.

Untuk menjawabnya sepertinya saya harus mulai menganalisa apa yang menyebabkan saya melakukan hal yang saya sedang jalani sekarang. Saya juga perlu menganalisa hal apa yang menyebabkan saya sedih, apakah karena perubahan hormon, karena makanan atau simply karena lelah dengan kemacetan yang semakin gila. 

"Happy is he who has overcome his ego" - Siddhartha Gautama

To be continued.....

Rabu, 19 April 2017

Synergy Run

Acara lari ketiga yang saya ikuti. Kebetulan saya berteman di Path sama Race Director nya yang share link untuk daftar di socmed nya tersebut. Iseng-iseng saya klik link nya, ternyata biaya pendaftarannya murah, 150 ribu saja untuk kategori 10k. Di acara ini hanya ada 2 kategori, 5k dan 10k. Lokasinya juga tidak jauh, start di FX, lari sekitar Jl. Sudirman, finish di FX. Ya saya langsung daftar. 

Sejak awal tahun 2017, dengan adanya pekerjaan baru, jadwal latihan lari saya berantakan. Bahkan saya sudah tidak punya cadangan energi untuk berkebun lagi, semuanya terkuras di jalanan. Dengan sisa-sisa energi yang ada saya mencoba untuk tetap lari di sabtu atau minggu, walaupun stamina jauh berkurang. Saya juga belum mampu mengatur lagi pola makan saya sehingga badan saya balik terasa enggak fit dan sluggish. Bahkan saat bangun tidur saya merasa seluruh badan sakit semua kayak abis lari marathon. 

Hampir saja saya kelewatan acara ini. Seingat saya event Synergy Run ini akan dilaksanakan akhir April, ternyata bulan Maret. What?! Saya belum sempat latihan serius, malahan banyak saat dimana satu minggu penuh saya gak lari karena saat weekend tubuh saya menolak bangun pagi karena di hari-hari lain bangun jam 4 subuh. Saya baru sadar ketika ada notifikasi untuk mengambil Race Pack.

Yah karena larinya jarak 10k saya masih percaya diri untuk tetap ikut walaupun waktunya menyedihkan banget. Jauh lebih jelek dari waktu saya latihan lari menghadapi HM tahun lalu, padahal lokasinya sama, di Jl. Sudirman (Car Free Day). Di luar waktu finish saya yang jelek, kaosnya bagus dan medalinya bagus - medali 10k pertama saya. 

Yang unik dari synergy run adalah ada kategori lari pakai kostum nusantara. Jadi pagi-pagi sebelum start saya lihat sudah banyak peserta berkostum baju daerah. Kostumnya juga gak tanggung-tanggung, komplit kayak acara pawai 17 Agustusan jaman saya kecil dulu. Sayangnya yang 10k start duluan jadi saya tidak sempat lihat peserta berkostum lari-lari.

Saya ketemu Astrid, teman yang ketemu di HM Bali Marathon. Reaksi saya pertama pas lihat dia langsung, "woooow.. lu kurus banget." Emang iya! kurusnya drastis dari terakhir saya ketemu di Bali bulan Agustus. Dia aktif banget ikut event lari, malahan tahun ini katanya sudah mau coba lari Full Marathon. Whoaaa... saya kapan? hiks.






Sabtu, 15 April 2017

Sehari di Nusa Penida

Nusa Penida adalah pulau kecil dekat Pulau Bali, sekitar 45 menit - 1 jam naik boat dari Sanur. Awalnya saya tertarik ke Nusa Penida karena lihat postingan foto Angel's Billabong di Instagram. Di foto itu tampak semacam danau yang berbatasan langsung dengan laut, airnya sangat bening sampai-sampai batuan di dasarnya terlihat. Di foto itu juga ada orang floating di atas nya, keren banget saya jadi kepingin.

Sebelum matahari terbit saya sudah siap-siap check-out dari hotel di daerah Sanur, jalan kaki 5 menit saja ke dermaga tempat naik boat ke Nusa Penida. Sebenarnya saya merasa agak kurang fit waktu itu, hampir saja saya membatalkan rencana nyebrang ke pulau itu tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi? 

Sampai di tempat penyebrangan sudah banyak orang, kebanyakan sih orang lokal (orang Bali). saya langsung ikut mengantri di meja yang ada tulisan kapal ke Nusa Penida, bayar, dikasih tiket dan disuruh menunggu kapal berangkat. Sementara itu matahari terbit di ufuk Sanur, membuat langit dan pantulan laut berwarna keemasan. 

Sehabis melihat sunrise dan terkena hangat matahari pagi, badan saya berasa agak meningan. Sehari sebelumnya saya habis ikut Half Marathon, mungkin itu salah satu penyebab ketidak-fit-an saya. Tapi beberapa menit setelah kapal berangkat saya mulai merasa mual seperti mabuk laut, padahal seumur-umur belum pernah saya mabuk laut. Sampai di Nusa Penida kepala saya masih pening dan kurang balance.

Turun dari boat langsung banyak yang menawarkan motor untuk disewa. Saya tidak bisa nyetir motor. Dulu pernah belajar, tapi baru beberapa menit sudah jatuh dan tertiban motor, sampai sekarang masih belum punya nyali untuk mencoba lagi. Jadi saya sewa motor plus tukang ojeknya. Sebenarnya kalau hanya punya waktu satu hari lebih efektif cara begini sih, soalnya kalau pun bisa bawa motor dan jalan sendiri saya pasti bakal banyak nyasar dan nyusruk di jalan karena tanda-tanda arah jalan tidak jelas dan tidak semua jalanan beraspal, belum lagi jalanan disana berbukit-bukit, berkelok-kelok, dan sepi.

Pantai Kelingking


Pertama saya diantar ke Pantai Kelingking, karena menurut bli ojek lokasi ini paling jauh dari lokasi lain yang mau kita datangi. Saya juga penasaran kenapa namanya kelingking, soalnya sama sekali gak ada yang mirip jari kelingking disana. Katanya kalau lagi musimnya dari atas tebing bisa kelihatan Manta lagi berenang di bawah situ. Manta nya pasti gede banget kalau sampai bisa terlihat dari atas tebing, karena tinggi banget. 

Pasih Andus


Di  tempat ini ombaknya menghantam karang sampai kelihatan kayak meledak dan menimbulkan suara unik. Saya duduk cukup lama disini bareng bli ojek, nonton ledakan ombak sambil nebak-nebak ledakannya bakal besar atau biasa aja. Kayaknya saya bisa loh cuma nonton itu saja seharian, rasanya relaxing banget.

Pasih Uug 


Pasih Uug beken juga dengan nama broken beach. Mungkin karena ada bagian karang yang bolong atau broken. Mengingatkan saya sama tebing London Bridge yang pernah saya lihat di Great Ocean Road Australia. Mirip banget. Hmm.. tebing yang di bukit kelingking juga mirip sama twelve apostles yang di Great Ocean Road sih. Mungkin tempat-tempat itu mengalami fenomena geologi (entah apa itu bener atau enggak sebutannya) yang mirip. 

Angel's Billabong


Jalan sedikit dari Pasih Uug, disitulah akhirnya saya menemukan tujuan utama saya datang ke Nusa Penida. Angel's Billabong. Lebih cantik dari di foto. Dan ternyata itu adalah ujungnya sungai, bukan danau. Tapi saya gak bisa foto mengambang disitu karena ombaknya lagi besar. Ombak datang dari arah laut dan masuk melalui celah hingga memenuhi Billabongnya. Ngeri juga kalau lagi dibawah ada ombak masuk, bisa-bisa saya kebawa arus terhempas ke dinding-dinding karang di Billabong.

Crystal Bay


Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Crystal Bay. Di pantai ini ada warung-warung yang jual makanan. By the way, perasaan kurang fit saya ketika berangkat sudah lama hilang, kemungkinan besar ketika di Pasih Andus. Akibat takjub sama ledakan ombak saya jadi merasa segar bugar. Ketika melihat warung-warung saya baru sadar kalau belum sempat makan apa-apa sejak bangun tidur. Saya makan indomi ditemani dua orang cowo yang lagi makan juga disitu, mereka juga ternyata habis ikut Bali Marathon. Di Crystal Bay bisa snorkelling, tapi saya lagi gak semangat berenang. 

Petualangan saya di Nusa Penida berakhir di Crystal Bay jam 3 sore karena mau mengejar boat balik ke Sanur.


Selasa, 28 Maret 2017

Semalam di Bidakara Hotel

Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama, tepatnya awal tahun 2017. Waktu itu kenalan bisnis saya dari Norwegia datang berkunjung ke Indonesia. Pesawatnya tiba malam hari di Jakarta. Tadinya saya janjian ketemu dengan beliau malam hari di hotel yang telah di booking sama dia, yaitu Hotel Bidakara. Lokasinya dekat dengan kantor saya di kawasan Pancoran. 

Saya lupa awalnya kenapa saya iseng buka web pemesanan hotel, ternyata Hotel Bidakara lagi ada diskon yang lumayan banyak, walaupun dapatnya hanya room only tanpa breakfast tapi rate nya cukup menarik. Saya sering banget ke Bidakara, tapi biasanya hanya untuk acara conference atau sekadar janji ketemu orang dalam rangka bisnis, karena hotel ini termasuk salah satu meeting point kegiatan bisnis. Kalau untuk menginap, baru pertama kali. 

Saya berangkat dari kantor jam 5, tiba di Bidakara jam 5.20an. Dekat banget. Masih banyak waktu untuk explore hotel hingga Anne-Lise tiba di Jakarta, menurut perhitungan saya sekitar jam 9 malam. Saat itu hotelnya lagi sepi, mungkin karena tidak ada kegiatan training atau seminar dari kantor-kantor. Kamarnya luas, saya dapat view skyline gedung arah kuningan di jendela kamar. 

Sisa kamar tinggal yang twin bed, jadi satu bed buat saya, satu lagi buat tas

Skyline City view

Secara keseluruhan hotel ini memang excellent, sesuai dengan kelasnya, bintang 4. Yah walaupun Anne-Lise sempat complain kalau para staff nya banyak yang kesulitan dengan Bahasa Inggris. Tidak heran kalau hotel ini merupakan salah satu hotel favorit untuk tamu-tamu dengan tujuan bisnis, apalagi meeting rooms dan ballroom disini sudah sangat terkenal reputasinya.

Saya coba lihat fasilitas olah raganya, ada kolam renang dan gym. Kebetulan di mobil saya selalu sedia baju renang dan perlengkapan lari. Jadwal saya kan setiap harinya tidak pasti, makanya selalu siap-siap, jadi kalau ada waktu luang bisa langsung olahraga. 

Kolam renangnya terletak di rooftop dan bagus, bikin tambah semangat pingin berenang. Tapi setelah coba celupin tangan ke airnya ternyata dingin sekali. Sore itu memang sedikit hujan rintik-rintik. Saya akan orangnya paling gak kuat dingin, akhirnya mengurungkan niat untuk berenang. Batal berenang, saya putuskan mau lari aja 5km di treadmill. Ini pertama kali saya menggunakan fasilitas gym di hotel, suer. Yah, lumayan bisa latihan sebentar. 

Di lantai bawah hotel ada restoran dan cafe, diantaranya Starbuck dan Excelso. Ada juga convenience store, Family Mart, yang cukup komplit. Selain itu ada Taylor (tukang jahit, bukan Swift) dan Sport Warehouse yang menjual alat olahraga dengan harga diskon, iseng-iseng masuk sport warehouse saya malah belanja sport bra dan celana pendek. Tuh kan jadi salah fokus.

Anne-Lise datang sekitar jam 10 kurang karena pesawatnya delay, kami sempat diskusi sebentar mengatur jadwal kegiatan selama kunjungannya ke Jakarta dan Bandung. Selain urusan bisnis, saya juga sempat mengajak beliau jalan-jalan ke Kota Tua pakai fasilitas transportasi umum di Jakarta. Nanti kapan-kapan saya lanjutin ceritanya.

Hotel Bidakara
Jl. Jend Gatot Subroto Kav. 71-73
Pancoran
Jakarta Selatan
www.bidakarahotel.com

Minggu, 12 Maret 2017

Karena Diet Hanya untuk Orang Lemah

Ini cerita agak lama dari Birthday trip ke Bali tahun 2016 silam. Apalah artinya traveling tanpa cerita makan-makan, apalagi buat saya yang gak traveling aja makan melulu. Di liburan yang berdurasi kurang dari seminggu itu, saya, Tince dan Omith banyak mencoba kuliner sekitar Sanur. 

Kami menemukan Restoran Italia yang Pizza dan Gelato-nya enak banget, plus saya dapat surprise manis pas ulang tahun disana dari staff-nya, Massimo Pizza yang berlokasi di Jl. Danau Tamblingan. Tempat favorit saya adalah Warung Mak Beng karena saya suka ikan dan suka makanan pedas, bahkan nulis ini aja saya sambil menelan ludah.

Selain dua tempat makan favorit itu, kami menemukan warung makan murah meriah tidak jauh dari hotel kami di Sanur Guest House, Jl. Danau Poso. Namanya warung Moro Seneng, semacam warung nasi yang murah meriah, porsinya banyak dan sekali makan kayaknya gak pernah lebih dari 20ribu rupiah. Makan pakai lauk ayam, telur dan sayur kangkung aja hanya 14ribu, luar biasa kan? Disini nih tempat carbo loading saya dan omith sebelum acara race. Carbo loading murah meriah. 


Sehari sebelum race, saya dan Tince pindah ke Hotel Indi yang lebih dekat dengan Pantai Sanur. Sore hari kami jalan kaki kesana, jajan bakso di pinggir pantai kemudian menemukan tempat nongkrong unyu Sanur Beach Grove. Disitu kami duduk-duduk diatas rumput, sementara Tince beli dessert kue Chocolate Lava yang ditaburi gula-gula bentuk kembang warna-warni. Malamnya di arah pulang ke hotel, Tince beli nasi campur babi sementara saya jajan nasi jinggo.



Selesai lari HM, pulang ke hotel saya langsung tidur. Bangun tidur saya dan Tince kembali ke Pantai Sanur, disana kami memesan makan siang seafood combo dan kami lahap seperti orang kelaparan. Ternyata jadi supporter, Tince juga menghabiskan banyak energi dan kelaparan seperti saya. 



Selasa, 21 Februari 2017

Arch Hotel Bogor

Saat ini - sekitar jam 6 subuh, di luar hujan badai sejak dini hari. Biasanya saya sudah berangkat dari rumah jam 5.30 menuju tempat kerja, tapi mengingat pengalaman kemarin, gelap-gelapan menebak jalanan banjir atau tidak, lebih baik saya gak jalan dulu. Dapat berita dari adik saya yang baru berangkat mau kuliah, ternyata rumah saya terkepung antara banjir dan pohon tumbang. Yah makin mager.

Kemarin dalam usaha mencapai tempat kerja yang berjarak 40 km, saya menerjang genangan yang ternyata makin lama makin dalam sehingga memutuskan putar balik. Tapi diantara perjalanan membelah genangan air tersebut, selain menciptakan semacam ombak yang mengguyur pengendara motor disebelah saya (maaf banget ya mba, sumpah gak sengaja), plat nomor mobil bagian depan saya pun hilang.

Nah karena itu, hari ini saya pikir lebih baik untuk tunduk dulu sama kehendak alam, menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hitam tanpa terburu-buru dan menulis blog.

***

Bulan Desember tahun 2016 silam saya sempat ada shortrip ke Bogor. Karena jarak Bogor yang tidak begitu jauh dari Jakarta, biasanya saya jarang menginap disana. Tapi kali itu saya mau iseng, menghabiskan malam di Bogor.

Berangkat dari kantor jam setengah lima sore, saya tiba di rest area yang sebelum exit sentul city seklitar jam setengah 6. Mampir untuk jajan Starbuck. Rencananya saya mau go show cari hotel-hotel di sepanjang Jl. Padjadjaran, tapi iseng-iseng saya lihat Agoda di handphone saya dan menemukan sebuah hotel di area yang saya inginkan lagi diskon banyak. Plus ada tambahan potongan setelah log in, insider’s deal.

Nama hotelnya Arch Hotel. Setelah booking confirmed, saya langsung cari lokasi tersebut di GPS. Saya diarahkan oleh GPS untuk exit di sentul city kemudian masuk toll yang baru. Ternyata lokasinya tidak begitu jauh dari exit toll baru itu. Hotelnya bertetangga dengan salah satu café yang lagi hits di Bogor, Lemongrass.

Hotelnya memang tidak besar, kamarnya juga standard, kalau misalkan tidak ada diskon yang besar ditambah insider’s deal menurut saya sih rate nya terlalu mahal. Yang bikin saya tertarik cuma kolam renangnya.

Bisa jalan kaki ke Lemongrass
Kamarnya lumayan, yang penting ada pemanas air untuk bikin kopi
Safety deposit box dan Kulkas
Sandal hotelnya lucu juga warna hitam

Ketika check in dengan sok tau saya tanya kolam renang buka sampai jam berapa, kebetulan di mobil bawa baju renang. Mas-mas receptionist bilang buka 24 jam, saya pun niat mau berenang malam-malam. Pas malam hari saya balik kesitu, langsung buyar niat saya ketika mencelupkan ujung jari. Dingin banget. Akhirnya saya cuma duduk dipinggir kolam, buka laptop.

Dari Agoda saya hanya booking kamar tidak include breakfast karena memang harus berangkat pagi sekali. Waktu lagi nunggu lift turun dari lantai tempat kamar saya, dari jendela tampak  puncak Gunung Salak  yang diselimuti awan tipis.



Gunung Salak View dari jendela hotel


Alamat:
Arch Hotel Bogor
Jl. Raya Pajajaran No. 225
Bantarjati, Bogor Utara




Minggu, 19 Februari 2017

Harus Pergi Liburan

Terhitung awal januari 2017, saya secara resmi menjalani kehidupan di dua pekerjaan. Di bulan kedua juggling antara pekerjaan satu dan yang lainnya, rasanya hari-hari saya sudah mulai kocar-kacir dan keteteran. Pekerjaan saya yang baru lokasinya jauh banget, jarak tempuh 40 km sekali jalan dari rumah saya. Otomatis saya berangkat harus subuh. Diantara waktu itu saya harus meluangkan waktu untuk pekerjaan nomor dua saya, jadi kadang sabtu juga saya harus kerja.

Seperti misalnya sabtu lalu, dari pagi mengerjakan dokumen tender. Hari minggu malam saya berangkat ke semarang. Senin subuh tiba di semarang langsung ke jepara. Siangnya langsung balik ke semarang, tidak lupa mampir ke kudus untuk makan garang asem favorit. Sorenya sudah naik kereta lagi ke jakarta. Sampai rumah hampir tengah malam. Selasa subuh saya sudah harus berangkat ke kantor baru saya yang berjarak 40 km dari rumah itu. 

Ngomong-ngomong, perkembangan kereta api luar kota semakin bagus saja sejak terakhir kali saya naik kereta ke Jogja dua tahun lalu. Saya beli tiket di Indomaret, dapat struk yang ketika sampai di Gambir dicetak langsung di mesin cetak boarding pass. Tidak perlu antri di loket seperti jaman dulu. 

Waktu dari semarang malahan saya beli tiket dari mesin, tinggal memasukan asal keberangkatan dan destinasi, pilih kereta, kemudian memasukan uang di mesinnya, langsung keluar struk. Setelah dapat struk pergi ke mesin cetak boarding pass. Mudah banget. Kereta yang saya naikin kebetulan argo, bersih banget dan tidak ada cek tiket karena kondekturnya sepertinya tinggal cek penumpang dan nomor kursinya dari handphone yang dibawa-bawa. 

Untungnya hari Rabu libur pilkada. Tapi saya tetap harus kerja setelah mencoblos, mengerjakan pekerjaan lain dari tempat kerja kedua. Yah akibatnya kalau ada waktu luang, saya utamakan untuk tidur. Jadwal latihan lari saya pun berantakan, seperti bangku belakang mobil saya yang sekarang setiap hari harus menempuh jarak lebih dari 100km. Entah sampai berapa lama saya bisa bertahan hingga tulang-tulang yang mulai renta ini start to falling apart. 

Terlebih karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu sendirian terlalu lama di mobil, dalam cuaca yang senantiasa mendung dan sering hujan, saya jadi gampang merasa melankolis. Ah sepertinya saya benar-benar harus pergi liburan. 

Senin, 02 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Hmmm.. mau nulis apa ya?

Biasanya setiap akhir atau awal tahun saya akan merangkum apa saja yang terjadi di tahun tersebut, pergi kemana saja dan apa saja yang terjadi dalam hidup saya, tapi tahun kemarin rasanya terlalu complicated untuk dirangkum, ini adalah tahun dimana saya merasa tertekan karena suatu hal tapi memilih untuk mengalah dan menghindari drama karena saya tahu masalahnya bukan di saya. Jadi untuk efisiensi energi saya memilih untuk menghindar dan move on.

Ternyata setiap tahun keadaan tidak jadi makin mudah. Sama seperti waktu sekolah, makin tinggi kelasnya pelajarannya makin rumit dan makin banyak. Mendekati akhir tahun 2016 saya sempat mengalami breakdown, merasa hilang arah sendirian tanpa google maps yang kasih tau harus turn left atau turn right. 

Di penghujung tahun 2016 saya kembali berada di persimpangan dalam hidup ketika pertanyaan batin itu terlontar secara lisan dan retoris, "Aku mau kemana tahun depan?" Sampai tulisan ini dibuat saya masih melangkah tanpa tahu pasti mau kemana, just living the day by day.

Saya telah belajar untuk live in the moment, bersukur dan menikmati yang saya miliki dan tidak berusaha bikin benchmark kehidupan saya dengan orang lain, karena saya masih percaya bahwa jalan hidup setiap orang berbeda-beda dan tidak ada standard khusus yang bisa bikin kategori mana hidup yang baik dan mana yang buruk. Tapi perasaan tidak tahu arah ini lumayan bikin resah, saya jadi berpikir mungkin itu kenapa manusia bikin benchmark, supaya mereka bisa ikut arah orang-orang sebelumnya atau sekitarnya, tapi apa kita semua harus pergi ke arah yang sama?

Tahun ini saya tidak banyak jalan-jalan. Awal tahun sempat ke Bangkok. Kemudian bulan Agustus saya ke Bali ikut Maybank Bali Marathon, berhasil finish Half Marathon pertama saya dan pergi ke Nusa Penida. Tahun depan, walaupun belum tahu mau kemana, yang jelas saya akan terus lari. 

Mulai pertengahan tahun kemarin adalah bencana bagi tanaman-tanaman saya. Musim hujan terlalu lama bikin tanaman saya jadi menderita, hama-hama makin banyak dan akar-akar tanaman busuk akibat tanah selalu basah. Mungkin akan saya ceritakan di postingan khusus kapan-kapan.

Mungkin hal akan berubah drastis untuk saya di tahun 2017. Let's see. Yang jelas sekarang saya sudah mulai pakai krim malam untuk mencegah keriput.


Instagram best nine 2016 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...