Minggu, 18 Juni 2017

Ayam Goreng yang berubah menjadi Opor

"This is not a love story, this is a story about love." - quote taken from movie 500 days of summer.

Dulu saya pernah cerita tentang sejarah hewan-hewan peliharaan yang sempat singgah dan mewarnai kehidupan saya di postingan Peliharaan-Peliharaan Tante . Yang belum baca bisa di klik link nya. 

Sekarang saya mau cerita tentang kisah memilukan salah satu hewan peliharaan yang saya sayang banget. Dia adalah seekor anak ayam yatim piatu sebatang kara yang ibunya mati tidak lama setelah dia baru menetas, walaupun gak bayi-bayi amat tapi masih dalam usia belum mampu hidup mandiri sepenuhnya. Bapaknya entah yang mana. Sementara induk ayam lain tidak ada yang mau mengadopsinya, bahkan gerombolan anak-anak ayam selalu kabur berpencar kalau dia menghampiri. 

Biasanya kan anak-anak ayam tidurnya di bawah sayap induknya, tapi karena tidak ada induknya dia terlunta-lunta hingga terdampar di teras. Itu pun dia sulit tidur karena teras sangat terang dan dia gak menemukan posisi yang enak dan hangat untuk tidur sendiri. Karena itu dia hanya mampu berciap-ciap di malam hari. Suara ciapannya sangat memilukan bak sembilu menyayat-nyayat lubuk hati yang paling dalam, kedengaran jelas ke dalam kamar saya. Karena gak tega saya menghampiri anak ayam tersebut, ketika saya ambil dia langsung melompat ke pundak saya dan tertidur. Sempat khawatir di e'ek-in sih, ayam kan sebelum bobo biasanya e'ek. 

Saat itu juga, di saat dia tertidur lelap di pundak itu, saya langsung jatuh sayang dan memberinya nama Ayam Goreng. 

Malam-malam berikutnya dia tidur sendirian dalam kandang kecil yang dibuat Papa Said, diletakan di teras tapi di pojokan yang gelap. Tapi Ayam Goreng kecil masih saja suka melompat ke pundak saya dan bertengger disitu, seolah-olah dia merasa seperti bayi naga di film Games of Throne, dan saya otomatis merasa seperti Daenerys Targeryien. Alih-alih the mother of dragons, saya jadi the mother of ayam. 

The mother of dragon
The mother of ayam
Ayam Goreng tumbuh menjadi seekor ayam jantan remaja yang tampan, dengan warna hitam dihiasi semburat putih yang berkilauan bila ditimpa sinar matahari. Setiap pagi ketika saya keluar rumah Ayam Goreng akan selalu lari menghampiri minta di elus-elus, persis kayak punya anjing. Begitu pula ketika saya pulang kantor, turun dari mobil dan buka pagar saya akan memanggilnya: 

Ayam Goreeeeeeeeeng.......

Apa pun kesibukannya lagi ngais-ngais dimanapun pasti akan segera dihentikan dan berhambur lari sekencang-kencangnya dengan sepasang cekernya untuk menghampiri saya. 

Kalau saya lagi mondar-mandir dihalaman, atau mau ngurusin kebun, dia akan selalu ngikutin di belakang. Kalau saya tiba-tiba berhenti, gak jarang kepalanya kejeduk betis saya. Seperti biasa Papa Said selalu ganti-ganti nama hewan peliharaan yang saya kasih kan, Ayam Goreng pun diganti jadi Ayam Bakar. KZL. 

Hingga suatu hari yang kelam kelabu, seharian perasaan saya udah gak enak. Ketika sampai di rumah sorenya, saya buka pagar kemudian panggil-panggil:

Ayam Goreeeeng.... Ayam Goreeeng...

Tapi Ayam Goreng tidak tampak dimanapun. Saya pun cari-cari di seluruh penjuru halaman, di pojok-pojok kebun, di semua kandang ayam Papa Said, di atas pohon. Tapi Ayam Goreng was nowhere to be found. Perasaan saya makin gak enak. 

Ketika masuk ke dapur, saya lihat di meja makan ada opor ayam. Saat itu rasanya kayak ada yang meremas hati saya. Insting saya langsung mengatakan kalau yang di atas meja makan itu adalah Ayam Goreng yang telah dimasak jadi Opor. Saya gak berani tanya, takut perasaan saya makin hancur mendengar kenyataan yang diutarakan secara eksplisit. Dengan langkah lunglai saya langsung masuk kamar dan tidak pernah memandang opor itu untuk kedua kalinya.


Minggu, 04 Juni 2017

Cihampelas Skywalk

Bandung...Bandung...Bandung

Selalu saja ada terobosan-terobosan baru yang mengundang orang untuk berkunjung ke Parisnya Java tersebut. Saya ingat waktu saya kecil Bandung terkenal dengan pusat wisata belanja jeans di Cihampelas dan wisata belanja sepatu kulit dan tas kulit di Cibaduyut. Kemudian jaman saya kuliah disana trend beralih menjadi pusat wisata belanja Factory Outlet dan wisata kuliner. 

Sekarang walaupun era Factory Outlet sudah menurun drastis tapi saban weekend dan hari libur lainnya Bandung senantiasa ramai oleh wisatawan. Mungkin sekarang trendnya lagi wisata alam-alaman di sekitar Kota Bandung seperti ke Lembang, Ciwidey dan Dago. 

Sejak Pak RK jadi walikota, kota ini jadi makin unik, didandanin macem-macem. Salah satu yang lagi jadi tren adalah Cihampelas Skywalk atau bahasa Indonesianya Teras Cihampelas. Bangunan ini semacam jembatan selebar jalan yang membentang sejauh 450 meter diatas Jalan Cihampelas. Diatasnya ada taman-taman kecil, tempat duduk, kios-kios yang menjual makanan dan cinderamata. 

Beberapa waktu lalu saya ke Bandung untuk urusan pekerjaan saya sempatin untuk singgah. Waktu itu saya belum tahu pasti apa yang ada diatasnya, paling hanya lihat foto-foto instagram orang. Saya juga belum tahu lokasinya. Jadi waktu itu saya ke Bandungnya naik travel, gak bawa mobil sendiri. Sehabis meeting sama klien di daerah Pasteur, saya naik angkot sampai Cihampelas. Tapi angkot yang saya tumpangin tidak ke arah Cihampelas, saya harus ganti angkot di persimpangan gadog. Karena saya belum tahu letaknya, jadi saya putuskan jalan kaki saja sepanjang Cihampelas, ternyata lumayan jauh. Lewatin Rumah Sakit Advent kalau dari arah gadog. 

Struktur Cihampelas Walk tersebut benar-benar menaungi jalan raya, mobil-mobil lewat dibawahnya. Saya kesana di hari kerja siang-siang, jadi gak lihat macet. Saya jalan-jalan aja diatasnya. Lucu juga. Warna warni dan banyak tanaman, mudah-mudahan dirawat dengan baik supaya gak cepat kusam. Saya sempat makan siang batagor diatas situ. Yang paling penting, saya sudah tidak penasaran lagi. 




Sabtu, 13 Mei 2017

Jelajah Subang, Ciater dan Takubanparahu

Sejak ada toll baru Cipali ke Subang jadi lebih cepat dan kayaknya lebih dekat juga karena potong jalan. Dulu sebelum ada toll Cipali kalau mau ke Subang lewat Purwakarta, lewatin jalan meliuk-liuk dan hutan-hutan di daerah kalijati. Jalannya tidak begitu besar dan kalau jam masuk dan bubaran pabrik di daerah industrinya yang banyak pabrik tekstil macet banget karena jalanan diserbu ribuan pekerja-pekerja lalu lalang diantara truk-truk kontainer segede gaban. Kalau mau tanya gaban itu segede apa, ya segede truk kontainer.

Nah sekarang kalau dari toll Cipali langsung exit Subang, tidak jauh dari pusat kotanya. Tidak jauh dari exit toll menuju kota subang ada rumah makan nasi liwet yang asik, Saung Liwet Kang Nana. Tempatnya di pinggir sawah dan nasi liwet disajikannya masih di castrol, enak banget. 

Tapi tujuan saya kemarin-kemarin itu bukan ke Kota Subang, melainkan masih lanjut terus dari kotanya ke arah Bandung, tepatnya ke daerah Ciater. Yak betuuull.. Ciater pusat pemandian air panas. Dulu waktu masih kuliah di Bandung saya beberapa kali ke Ciater, lewat Lembang. Sudah jelas kondisinya sudah tidak seramai sekarang. Kebetulan tempat yang saya kunjungi untuk urusan pekerjaan berada di seberang Resort Sari Alam. 

Sari Alam Hot Spring and Resort Hotel adalah suatu kompleks yang didalamnya banyak terdapat titik-titik pemandian air panas alami, yang panasnya berasal dari panas gunung berapi. Di dalamnya juga ada Curug Jodo yang menurut legenda tempat Sangkuriang pertama kali melihat Dayang Sumbi dan naksir, tanpa tahu kalau sebenarnya itu adalah ibu kandungnya sendiri. Saya gak sempat masuk ke dalam kawasan curugnya, tapi karena manager resort adalah kenalan kawan saya, kami sempat dibawa keliling komplek resort pakai odong-odong. 

Tempatnya asik sih buat istirahat, selain untuk berendam air panas, fasilitas-fasilitas lain juga komplit. Ada tempat outbond, tempat main golf mini, tempat main ATV offroad, bahkan ada tempat glamping - glamour camping. Waktu itu kami diajak keliling sore hari, siangnya habis hujan deras, kabut mulai turun, jadi dinginnya pakai banget, apalagi di odong-odong terbuka yang anginnya sembriwing.

Dari kompleks utama resort ke daerah Glamping lumayan jauh, lewatin jalan offroad dengan view barisan gunung-gunung yang spektakuler. Namanya juga Glamour ya... ini tuh tenda nya di dalam gazeboo, jadi ada lantainya dan ada atapnya supaya tidak kedinginan dan kehujanan. Di dalam tendanya ada bed, bantal, selimut jadi tidur tetap nyaman. Di luar tenda ada kulkas dan kompor untuk masak. Aahh.. memang nikmat banget hidup glamour walaupun camping yah. 

view dari komplek resort ke kawasan glamping
Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke ciater, kali ini untuk menghadiri undangan meeting. Acara meeting selesai lebih cepat, hari belum sore-sore amat, masa langsung balik ke Jakarta. Saya pun berhasil menghasut supir kantor untuk mengantarkan saya jalan-jalan ke Takuban Parahu. 

Kayaknya saya ke Takuban Parahu udah lama banget, waktu masih SD, jadi lupa bagaimana bentuknya disana. Tapi saya ingat ada foto bareng keluarga di depan kawah, tentunya waktu jaman kamera masih pakai roll film. Jadi foto-fotonya dikit, soalnya pas jaman itu kalau foto mikir kuota filmnya dan mikir cetak fotonya musti bayar lagi kalau foto kebanyakan, jadi pas jaman itu kalau mau foto musti selektif dan untung-untungan. Udah cuma foto dikit, pas dilihat hasilnya ternyata blur, nyesek.

Sampai sekarang saya masih gak ngerti soal bentuk perahu terbaliknya. Kalau kebetulan lewat daerah yang bisa kelihatan gunung Takuban Perahu suka dikasih tunjuk, itu gunung yang bentuknya seperti perahu terbalik. Mungkin karena imajinasi saya kurang atau mungkin juga karena tidak ingat bentuk perahu terbalik seperti apa jadi sampai sekarang masih belum bisa grasp the idea. Eniwei, legendanya adalah itu memang perahu yang dibuat oleh Sangkuriang atas permintaan Dayang Sumbi. Ingat kan tadi Sangkuriang falling in love at first sight begitu lihat Dayang Sumbi di Curug Jodo itu? Nah ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya sendiri. 

Kisah keluarga ini memang cukup rumit dan menjadi bukti kalau masyarakat indonesia sudah gandrung sama tipe-tipe cerita sinetron dari sejak jaman Televisi belum ditemukan dan Punjabi belum menjadi empire yang menguasai dunia persinetronan nasional. Sangkuriang diusir sama Dayang Sumbi waktu kecil karena membunuh anjing peliharaan keluarga yang ternyata adalah *jeng jeng jeng* adalah ayah kandungnya. Dia memberikan hati anjing yang bernama si Tumang itu ke Dayang Sumbi dan bilang kalau itu hati menjangan, kemudian dimasak dan dimakan sama Dayang Sumbi. Begitu tau itu adalah hati si Tumang yang adalah juga suaminya, bukan sekedar anjing peliharaan keluarga, Dayang Sumbi marah, memukul Sangkuriang pakai centong di kepala dan mengusirnya.

Tapi ketika Sangkuriang pergi, Dayang Sumbi menyesal dan berdoa agar suatu saat nanti di pertemukan lagi sama anaknya. Untuk menjaga dirinya agar berumur panjang dan gak gampang sakit, Dayang Sumbi berubah jadi vegan, cuma makan sayuran dan daun-daunan. Efeknya adalah beberapa tahun kemudian Dayang Sumbi masih tampak muda dan langsing seperti gadis belia. Mungkin selain vegan dia juga ngelakuin yoga dan pilates. 

Ketika Sangkuriang lihat Dayang Sumbi di curug jodo, dia gak nyangka kalau itu ibunya, soalnya dia mikir pasti ibunya kan sudah tua. Yah jaman itu memang belum jamannya hashtag hot momma, dan jelas-jelas Sangkuriang belum tau ada yang namanya Sophia Latjuba. Tapi Dayang Sumbi sadar itu anaknya karena lihat bekas pukulan bentuk centong dikepalanya. Jadi untuk menolak Sangkuriang secara halus, Dayang Sumbi minta dibuat bendungan yang membendung sungai citarum dan perahu dalam waktu semalam. 

Dayang Sumbi pikir itu hil yang mustahal, tapi Sangkuriang ternyata adalah kontraktor handal. Sebelum pagi proyeknya sudah hampir selesai. Dayang Sumbi panik kemudian dapat ide untuk bikin sinar fajar palsu dari kain putih. Melihat itu jin-jin anak buah Sangkuriang pikir kalau sudah mau pagi dan mereka bubar. Sangkuriang marah kemudian menendang perahu yang hampir jadi tersebut dan berubah jadi gunung Takuban Parahu.

Jadi inti dari kisah ini adalah, kalau mau awet muda cobalah diet vegan, hanya makan sayur dan lalapan seperti Dayang Sumbi.

Kawah Takuban Parahu




Jumat, 28 April 2017

Jalan-jalan di Ibukota sama Mommy Bule

Mommy bule keturunan Viking dari Norwegia ini orangnya luar biasa, saya nge-fans. Di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, beliau sudah bikin perusahaan sendiri untuk menegerjakan pekerjaan konstruksi terowongan menggunakan metode yang dikembangkannya pada saat penelitian Doktor. Usianya sepantaran Papa Said, tapi saya aja kalah lincah sama beliau. Masih semangat manjat-manjat bukit sendirian di lokasi proyek sementara saya ngopi di warung. 

Kisah awal saya bisa kenal dengan mommy bule ini bermula 4 tahun lalu. Berawal dari perkenalan saya dengan Felicity, blogger yang menikah dengan orang Norwegia dan tinggal disana. Saya sudah beberapa kali kopdar sama dia ketika pulang ke Indonesia, hingga suatu ketika Feli datang bersama suaminya, T, dan dikenalkan ke saya. Ngobrol-ngobrol ternyata bidang pekerjaan kita berkaitan, sama-sama di bidang konstruksi. T sempat mampir ke kantor saya juga waktu itu.

Saya lupa kapan tepatnya setelah pertemuan dengan Feli dan T, dia menghubungi saya melalui e-mail. Katanya ada rekan ayahnya, T Senior, yang lagi sendirian di Indonesia. Kalau ada waktu dia minta saya menengok keadaan rekan T Senior, saya diberikan kontaknya. Ternyata yang bersangkutan lagi di Bandung untuk dalam rangka mengejar suatu pekerjaan pembangunan terowongan. Kebetulan waktu itu lagi ada waktu luang jadi saya menghampiri ke Bandung dan sejak itu hubungan kami berlanjut hingga sekarang saya sudah anggap beliau mommy saya sendiri, mommy bule. Saya udah kayak anak angkatnya. 

Malahan tahun lalu Mommy bule dua kali berkunjung ke Indonesia membawa anak laki-lakinya. Waktu baru datang anaknya kaku dan dingin banget. Senyum aja pelit. Setelah 3 hari kena sinar matahari tropis yang hangat, sate, nasi padang dan gurame bakar, jadi cengengesan melulu. 

Awal tahun lalu Mommy bule kembali ke Jakarta sendirian. Kami sempat ke Bandung untuk melihat lokasi proyek, kemudian balik ke Jakarta. Sebelum pulang ke Norwegia saya sempat mengajak beliau jalan-jalan sore di Jakarta dengan fasilitas umum. Kita ke Kota Tua. Perginya naik Bus Transjakarta dari hotel Bidakara. Pulangnya naik Kereta Commuter Line dari Stasiun Kota ke Stasiun Cawang, Makan bakso di TIS, kemudian naik Bajaj kembali ke hotel.

Di Kota Tua

Naik Commline
Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan kemajuan yang berarti dari sistem transportasi umum di Jakarta. Walaupun masih banyak kekurangan dan komplain tapi sudah mulai kelihatan terkoneksi. Lebih baik terlambat daripada tidak kan? 

Di Stasiun Kota waktu mau beli tiket commuter line saya sempat norak lihat mesin beli kartu seperti di Singapura. Mommy bule juga tampak kagum. Beliau tampak senang dan memuji adanya tempat khusus perempuan di Bus Transjakarta dan gerbong khusus perempuan di Commline. Kebetulan aja waktu itu perginya pas hari libur, jadi berasa nyaman. Kalau pergi di hari kerja di jam rush hour mana bisa selfie sambil nyengir di dalem kereta. 

Rabu, 26 April 2017

Jangan-Jangan Masalahnya di Gue

Tahun lalu saya merasa mulai bisa menata hidup. Punya kegiatan berkebun yang menyenangkan di waktu luang. Mulai bisa mengatur pola makan sehingga badan terasa jauh lebih bugar, lebih ringan dan segar. Punya energi lebih untuk lari minimal dua kali seminggu, kadang diselingi sama berenang, Yoga. Saya juga baca banyak buku dari Scribd.com. Ikut Online course gratisan di Coursera. 

Saat itu memang ada negative vibe yang sedang saya perangi dengan positivity, walaupun struggling tapi saya tetap bisa survive dari hal negatif tersebut. Kemudian datanglah suatu momen secara tiba-tiba, yang saya pikir bisa membebaskan dari struggle itu. Saya pikir, this is it, akhirnya saya bisa meninggalkan kenegatifan yang ada di hidup saya, bisa mulai menata hidup, memikirkan masa depan sambil terus mempertahankan kebun, pola makan dan aktifitas lain. 

Hari pertama di hari yang saya pikir adalah awal dari masa depan yang lebih baik saya mulai punya perasaan gak enak. Kayak ada sesuatu yang salah. Satu bulan saya jalani, saya yakin kalau memang ini sesuatu yang salah. Ibarat lompat dari mulut buaya ke mulut singa, negative vibe tahun ini jauh lebih berat dari tahun lalu. 

Saya jadi berpikir, ini jangan-jangan masalahnya ada di gue. 

Tapi, apa?

Apa masalah yang ada di diri saya?

Itu pertanyaannya.

Untuk menjawabnya sepertinya saya harus mulai menganalisa apa yang menyebabkan saya melakukan hal yang saya sedang jalani sekarang. Saya juga perlu menganalisa hal apa yang menyebabkan saya sedih, apakah karena perubahan hormon, karena makanan atau simply karena lelah dengan kemacetan yang semakin gila. 

"Happy is he who has overcome his ego" - Siddhartha Gautama

To be continued.....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...