Kamis, 23 November 2017

Watu Dodol Hotel, Banyuwangi

Saya pilih hotel ini karena ketika riset tentang tempat melihat matahari terbit di Banyuwangi, nama daerah Watu Dodol yang sering muncul dan satu kali pernah saya lihat nama Watu Dodol Hotel. Ketika saya cari di web booking hotel ternyata rate-nya cocok dengan budget saya. Tapi waktu itu saya tidak langsung booking. Kira-kira seminggu sebelum berangkat, ketika Pagit dan Susi sudah memutuskan ikut saya baru booking. 

Jarak resort ini tidak jauh dari Stasiun KA Banyuwangi Baru, tapi jauh kalau ke pusat kota. Kami bertiga naik angkot kuning yang sudah menguntit kami sejak keluar dari stasiun dan sempat makan siang depan stasiun. Tapi kalaupun tidak ada angkot itu kami juga bingung mau naik apa (waktu itu belum tahu kalau di Banyuwangi sudah ada Uber dan Grab), karena jalur itu tidak dilalui angkot. Kami membayar 20,000 / orang, yang memang mahal banget sih tapi yah daripada jalan kaki siang bolong bawa-bawa gembolan. Walaupun pada akhirnya yang mengantarkan kami bertiga ke baluran ya angkot itu juga. 

Ketika memasuki kawasan resort, saya senang sekali karena diatas ekspektasi. Tempatnya enak, nyaman, hommy banget. Kami dapat kamar yang menghadap kolam renang dan laut. Kamarnya juga luas dan bersih, bergaya arsitektur resort di Bali yang kamar mandinya ada open space-nya. Bedanya kalau di Bali, untuk mendapatkan resort macam begitu yang posisi dipinggir pantai, harus keluar uang paling tidak dua kali lipat. 

Waktu kami datang resortnya sepi, karena waktu itu hari Jumat. Tapi di halaman resort yang pas bersisian dengan pantai sedang dipasang dekor pernikahan. Rupanya ada yang mau menikah disitu keesokan harinya. Saat kami tiba hanya ada kami bertiga dan sekeluarga bule, jadi puas main-main dan foto-foto di kolam renangnya. 

View from our room
Dari halaman hotel di sebelah kanan terlihat Pelabuhan Ketapang dan kapal-kapal yang sedang menyebrang menuju Pulau Bali. Sosok Pulau Bali tampak pas di depan, bersebrangan dipisahkan laut. Di spot inilah keesokan pagi kami menyaksikan matahari terbit. Di sebelah kiri kami bisa lihat patung Penari Gandrung ikon Banyuwangi. Konon disitu terdapat Watu Dodol. Seperti biasa saya selalu kurang riset kalau jalan-jalan, jadi ketika Pagit bertanya seperti apakah Watu Dodol say atak bisa jawab.

Pertanyaan terjawab ketika kami bertiga makan malam di restoran hotel. Di kotak tissue meja makannya terdapat gambar batu lonjong warna hitam dibawahnya ada tulisan Watu Dodol. Ternyata Watu Dodol adalah Batu yang warnanya hitam dan bentuknya lonjong seperti dodol. Tapi anehnya Watu Dodol letaknya di tengah-tengah jalanan banget. Banyak cerita urban legend dan ada juga yang rada mistis ketika kami google tentang Watu Dodol. 

Yang paling penting buat saya adalah misi melihat matahari terbit pertama kali di Pulau Jawa sudah terlaksana.

View Sunrise dari Watu Dodol Hotel


Lokasi:
Jl. Raya Situbondo No.290
Ketapang, Kalipuro
Kabupaten Banyuwangi



Kamis, 16 November 2017

ITB Ultramarathon Jakarta-Bandung 170km

Beberapa bulan lalu, tidak lama sebelum bulan puasa tahun ini, saya mulai mengikuti awal terlahirnya event yg idenya berawal dari salah satu pelari ultramarathon senior saya di kampus yang sudah malang melintang di dunia perlarian. Ide pelari ultramathon tersebut kemudian disambut oleh dua orang senior saya yang sudah jadi orang-orang hebat. 

Yang saya takjub dari ketiga beliau adalah ditengah kesibukan sebagai para petinggi tingkat (multi)nasional masih sempat2nya create event lari dalam waktu kurang dari satu tahun, efektifnya mungkin hanya 4-5 bulan. Acara lari ini mengambil rute dari jakarta ke kampus ITB di Bandung lewat puncak yang diselenggarakan untuk menggalang dana yang akan disumbangkan ke Fakultas tempat saya kuliah dulu. Acaranya diberi nama Tribute to FTMD (fakultas teknik mesin dan dirgantara).

Hal ini jd semacam re-charge energi dan motivasi buat saya - anak magang yang timbul tenggelam, bahwa gak ada satu ide gila pun yang tidak mungkin terlaksana dengan semangat, kerja keras dan ..... 

koneksi.

...makanya gaul itu juga penting. 

Jarak Jakarta - Bandung yang ditempuh sekitar 170km. Boleh ditempuh sendirian, boleh juga keroyokan. Bisa ber-2, ber-4, ber-8, dan ber-16. Demi untuk menjaring banyak anggota saya ikut kategori ber-16, jadi masing-masing pelari dapat jatah sekitar 10an km.



Mengumpulkan 16 orang dalam 1 team lari ternyata gampang-gampang susah. Memerlukan skill personal approach, negosiasi dan persuasi. Terutama ketika berusaha mendapatkan pelari perempuan kedua dan satu2nya yang bergelar Doktor @kireinashit dalam tim, sempat terjadi perebutan dan negosiasi alot dengan tim sebelah yang anggotanya perempuan semua. 

Walaupun rencana latihan bersama seminggu sekali hanya tinggal wacana, namun kapten tim yang penyabar, Hamzah, tetap berhasil mempertahankan kesatuan dan kekompakan. Detik-detik terakhir sempat terjadi krisis karena salah satu anggota berhalangan, namun kapten dengan tenang berhasil menanggulangi masalah ini dan membawa anggota baru, Igan - ikhwan ganteng sebagai pengganti. 

Tantangan sebenarnya dari ultramarathon ini bukan hanya di lari, tapi strategi mengatur logistik 16 pelari yang akan melewati jalur padat di akhir minggu. Untungnya ada Shadiq, pelari sekaligus ahli strategi yang sistematis. Ada juga pelari sekaligus penasihat tim yang kadang ide2nya brilian tapi lebih seringnya sampah, Chris yang juga pencetus nama tim ini, yaitu 137runner, 137 karena NIM kami semua berawalan 137. 

Unggulan tim ini adalah Hendra, pelari kencang berprestasi atlit PON kebanggaan kami yang sudah naik-turun podium. Yang tidak kalah fenomenal juga ada Ari yang rajin ikut race, Dicky (mantan) atlit kampus, Bagus, Helmi, dan Ganjar yang berwajah lugu tapi larinya jauh. Lalu ada para pemula yang kemampuannya meningkat pesat Fino, Budi -pelari sekaligus sponsor tim, dan Dodi - tangan kanan kapten. Satu lagi adalah pelari yang paling misterius, karena banyak dari anggota tim yang belum pernah melihat sosoknya (mungkin hanya bayangannya sangking cepetnya), Alnahyan. 

Tanggal 13 Oktober malam acara race dimulai. Perjalanan ini diawali oleh Igan di lokasi start wisma BNI dengan penuh perasaan cemas dan gugup karena baru pertama kali ikut dalam ajang race. Dikarenakan terbatasnya anggota dan tim support dari KAM maka Igan harus berjuang sendiri di garis start. Tapi kecemasan tak mempengaruhi performanya di ajang perdana ini, Igan berhasil mencapai WS (Water Station)1 di daerah pasar minggu, melewati tatapan sinis dan kesal para pengendara kendaraan yang terkena imbas macet akibat event ini. Pergantian pelari dilakukan di setiap WS.

Di WS1 Igan disambut oleh pelari misterius Alnahyan. Sambil mengunyah nata de coco, Al berhasil mencapai WS2 yang jaraknya lebih dari 10km dari WS1 pada pukul 00.34 wib, hanya dengan waktu 1.15 saja. Kedua pelari awal ini mengangkat estimasi waktu finish secara drastis sehingga rombongan pelari puncak memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meminjam istilah Hendra bahwa Djakarta adalah Koentji! 

Sementara itu tanpa ada kesepakatan sebelumnya selalu ada pantauan dari grup wa 137runner, bergantian memberi support dan memantau perkembangan race. Dari Al, estafet dilanjutkan oleh Fino hingga tiba di ws3 pada pukul 02.08. Waktu tempuh Fino jg merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pelari yang baru perdana ikut race, langsung menempuh jarak 10km dan larinya di jam2 orang lain bobo. Budi, yang merupakan newbie di dunia perlarian sudah siap menyongsong Fino di WS4. 

Ke newbie-annya membuat saya paling khawatir dengan Budi, sampai secara personal berkali-kali menyampaikan kalau ini acara fun, tidak perlu dipaksakan, dan tidak harus menyelesaikan 10km jatahnya. Tapi ternyata Budi berhasil menaklukan tantangan dengan support dari anggota di wa grup. Pukul 04.15 Budi berhasil mencapai WS5 di cibinong. Menjelang finish saya ketemu budi di kampus dengan gaya jalan yg sudah tertatih-tatih, tapi ketika yori mendekati finish budi tetap semangat ikut mengiring dari gerbang ganesha hingga gerbang finish dengan bertelanjang kaki. 

Dicky lanjut berlari dari ws4 menuju ws5, sementara itu pelari ke7, chris sudah berangkat lebih awal dan menunggu saya (mila) yang akan melanjutkan dicky dari bogor hingga daerah ciawi. Saat itu sekitar jam 4 subuh, padahal estimasi awal chris mulai lari pukul 11 siang. Jam 5 subuh rombongan pelari puncak hamzah, hendra, shadiq, bagus sudah berangkat juga. 

Pkl. 5.15 Dicky tiba di WS5. Kemudian giliran saya untuk melanjutkan arm band estafet hingga WS6. Jalan padjajaran bogor yang selama ini dilalui dengan angkot dan mobil rasanya datar-datar saja ternyata merupakan tanjakan tanpa bonus. Lewat dari 10km saya mulai merasa hilang arah karena tidak melihat ada pelari lain dan atau penunjuk arah, akhirnya tanya tukang parkir dimana arah wisma kemenag, tempat finish saya. Untung katanya masih lurus saja, berarti saya ada di jalur yang benar. Setelah melewati perempatan masuk ke jalan tol, pasar ciawi, gerobak bubur ayam, lontong sayur, gorengan saya tiba juga di ws6 pukul 7 passss... menempuh jarak 11.36 km dan elevasi 200 meter. 

Perjalanan saya dilanjutkan oleh chris yang harus melalui jalan dengan elevasi yang lebih dasyat lagi di daerah cisarua menuju Cimory. Dari jatah waktu COT 3 jam yang diberikan panitia, Chris mampu menyelesaikan dalam 1 jam 20an menit saja. Hendra, atlet kebanggaan 137runner lebih parah lagi. Berhasil membuat tukang ojek puncak minder karena berlari 10km elevasi 400an dengan waktu 1 jam doang. Itu baru pemanasan doang buat dia kayaknya soalnya masih kepingin lari lagi di slotnya helmi yang tiba2 sakit menjelang race. GWS ya helmi, semoga next event bisa ikutan. 

Kapten kita, Hamzah, melanjutkan perjuangan Hendra dari WS8 menuju WS9 dengan waktu yang tidak kalah gokil, kira-kira sejam doang juga ! Fiuh. Pkl. 10.20 hamzah sudah tiba di WS9, membawa 137runner memasuki segmen menurun dari kawasan puncak. Berlari di turunan yang panjang sebenarnya sama sulitnya dari berlari di tanjakan. Malahan lebih rawan cedera karena di turunan harus melawan gaya gravitasi. Shadiq yang ditugaskan berlari menyusuri elevasi yang semakin menyusut sepanjang sekitar 12km. Banyak anggota 137runner yang khawatir ketika shadiq berlari, bukan khawatir takut cedera, tapi khawatir ketika lari tiba2 dibelakangnya jadi banyak yang mengejar - para gadis kembang desa. 

Pkl 13.40 arm band beralih dari shadiq ke bagus di WS11. Dengan ceria dan sumringah, dibawah terik matahari yang panas, bagus berhasil tiba di WS12 pkl. 13.40 dan menyerahkan arm band kepada kapten hamzah lagi yang akan berlari mewakili helmi. 

Sementara para pelari berjuang menyelesaikan segmen masing-masing, kedua orang team manager- Aldy dan Putu, juga bekerja keras dengan penuh dedikasi mensupport mobilisasi pelari dari dan ke tiap WS. Konon Aldy sampai harus berkorban kartu ATM yang tertelan di mesin atm. Saya yakin capeknya manager team juga sama dengan para pelari, bahkan mungkin lebih, karena harus menyetir selama belasan jam melewati jalur naik turun dan macet. 

Hamzah tiba lagi di WS13 pukul 15.17. Katanya sempat ada insiden kaki keram tapi untungnya tiba juga dengan selamat dan menyerahkan tugas selanjutnya ke Dodi. Sebelum race saya sempat wa putu, yang merupakan kawan seangkatan dodi. Saya curiga sama kelakuan dodi yang gak pernah ikut latian bareng, ga pernah share hasil lari di grup wa, tapi kalau ngumpul selalu ada dengan sikap kalem dan cengengesan. Waduh, jangan2 dia bisa beres 10k dibawah 1 jam, kata saya ke putu. Putu bilang, yaa mungkin juga, karena waktu kuliah dulu dodi biasa lari 10k. Dan di event race perdananya ini, dodi berhasil menaklukan jarak yang ditugaskan kepadanya dengan smooth dan banyak foto-foto. 

Pkl. 18.40, Ari mulai berlari dari WS13 ke 14. Sudah semakin mendekati garis finish. Ari yang sudah sering ikut race dan berdedikasi sama latihan larinya juga menuntaskan segmennya dalam waktu 1 jam. Jam 20.54 arm band sudah beralih ke Ganjar, pelari ke 15. Yang artinya tinggal 1 pelari lagi menuju kampus ganesha. Ganjar sempat bermasalah lututnya, tapi tim support dengan cekatan mengantarkan balsem ke Ganjar. Dengan semangat material yang kuat, tangguh, bersemangat, ganjar berhasil mengalahkan masalah lutut dan berlari menyusuri padalarang hingga tiba di WS15, dimana Yori telah menanti. 

Yori, satu2nya doktor di tim lari 137runner, adalah pelari dengan jatah lari paling banyak. Hampir 15km. Menyusuri cimahi, belok ke pasteur, naik ke jembatan layang pasupati kemudian mengarah ke tamansari menuju ganesha. Memasuki jembatan layang Pasupati, rombongan pelari puncak sebanyak 5 orang mulai mengiringi yori. Di tamansari rombongan iringan bertambah dari team manager dan adik-adik MTM yang menyerukan yell-yell sepanjang jalan ganesha hingga memasuki gerbang finish. Pukul 23.10.

NB: sebagian tulisan ini (dan lebih banyak foto-foto) telah dipublish di IG @milasaid

Senin, 06 November 2017

Jakarta Marathon Pertama Saya

Kegiatan lari-lari kecil saya di tahun 2017 ini tidak mengalami kemajuan, baik dalam hal jarak maupun pace. Malahan cenderung mengalami penurunan. Karena di 6 bulan pertama tahun 2017 agenda latihan lari rutin berantakan, jadi pace saya menurun drastis. Sebenarnya dari bulan Maret saya sudah daftar dua race yang jatuh di penghujung tahun, Jakarta Marathon akhir Oktober dan Lombok Marathon awal Desember, keduanya kategori Half Marathon. Ya tapi seperti yang saya bilang, karena 6 bulan jadwal saya berantakan jadi saya baru mulai latihan lagi untuk HM 4 bulan menjelang Jakarta Marathon. Rasanya seperti mulai dari nol, pace menurun drastis yang menyebabkan motivasi juga agak menurun. 

Tahun lalu waktu latihan untuk bali marathon, pace 5k saya sudah masuk 7, walaupun dibandingkan kawan-kawan saya yang lain masih tergolong lelet. Tahun lalu target saya menyelesaikan 15k dalam waktu maksimal 2 jam. Tahun ini pace 5k saya diatas 8, semakin lelet ketika mulai mencapai 10k dan lewat dari itu saya sudah tidak kuat lari nonstop, pasti diselingin jalan cepat. Kalau ditimbang berat saya gak berubah banyak dari tahun lalu, tapi badan rasanya lebih berat. Tapi saya masih optimis bisa finish HM dalam waktu 3 jam. 

Seminggu sebelum race, yang harusnya sudah taper week saya masih mencoba mau lari 15k dalam waktu 2 jam di CFD. Sayangnya usaha tersebut gagal total, karena belum 13k sudah lewat 2 jam saya lari, panasnya sudah terik banget dan sejak lewat 8k saya sudah selingi dengan jalan cepat. Akhirnya saya menyerah di kilometer ke-13. Tahun ini saya memang kurang disiplin dalam mengikuti training plan, banyak bolong-bolongnya dan pengurangan jarak. Kalau tahun lalu saya masih latihan core, HIIT dan yoga, tahun ini nyaris tidak ada. Terasa sekali bedanya ternyata. 

Ini adalah Jakarta Marathon yang ke-5 tapi yang pertama  buat saya. Buat saya ini event lari ke-5 yang saya ikuti (sebelumnya Bali Marathon 2016, Helo kitty run 2016, Synergy run 2017, Ultramarathon ITB 2017). Untuk Half Marathon ini yang ke-2 kali. Kalau dibandingkan kawan-kawan seperlarian saya yang lain sih memang saya tergolong jarang ikut event lari.

Tanggal 29 Oktober, saya bangun jam 2 subuh. Malam sebelumnya sudah beli Milo Kotak untuk sarapan. Tapi ketika Taxi pesanan jemput jam 3 baru ingat kalau Milo-nya ketinggalan di kulkas. Akhirnya saya beli susu coklat kemasan kotak di warung. Saya janjian sama kawan saya Hamzah dan Hendra di Sarinah. Jam 4 kami mulai jalan ke race central di kawasan Monas. Jalan masuknya ternyata jauh aja. Pas akhirnya kami lewat pintu masuk, Full marathon sudah dipanggil untuk siap-siap start, Hamzah yang ikut FM segera bergegas ke garis start sementara Hendra ikut HM tapi mau drop bag dulu. 

Saya telpon kawan saya satu lagi chris yang sudah di race central dari jam setengah 4, dia ikut HM juga. Saya dan Chris agak bingung sama pengumuman start HM, kami berdiri di barisan orang-orang yang ternyata antri untuk start 10k. Akhirnya kami mencoba cari jalan maju, eh ternyata yang HM sudah pada start sekitar 10menitan. Baru lari 2km-an saya pingin pipis. Sebenarnya ada niat mau ke toilet dulu sebelum start tapi ketika lihat antriannya saya jadi males dan berpikir kalau sudah lari nanti juga udah gak bakal berasa pingin pipis. Ternyata saya salah.

Rute larinya dari monas lewat Hayam Wuruk ke arah Kota Tua. Ketika saya tiba di depan stasiun Kota hujan turun, gerimis tapi lumayan basah. Saat itu mungkin sudah lewat 7km. Saya belum pernah lari waktu hujan, apalagi saat itu saya pakai kacamata jadi gak enak banget karena gak ada wipernya. Saya mulai jalan cepat, nah dari itu energi saya kayak langsung turun, padahal belum 10km. 

Hujan gerimis mungkin gak sampai 10 menitan, ketika saya depan lindeteves hujan berhenti, tapi saya sudah terlanjur jalan dan mau mulai lari berat. Apalagi karena kena hujan jadi semakin pingin pipis. Akhirnya saya numpang pipis di KFC yang sudah buka, cari-cari pom bensin gak lewat-lewat. Habis hujan gerimis, langsung panas, cuaca jadi gak enak. Pengap. Apalagi karena keleletan ketika sampai di jalan yang gak steril, jalanan sudah macet, tambah panas kendaraan dan asap knalpot. 

Makin parah ketika tiba di ruas CFD thamrin, itu jam lagi padat-padatnya. Karena sudah susah untuk lari tanpa harus zig-zag, nge-rem dan senggol-senggolan sama orang, akhirnya saya jalan saja. Lagipula target saya finish 2 jam 45 menit sudah lewat dan itu baru km ke 19, jadi masih ada 3km lagi. Disitu saya ketemu sama ibu dari Bogor yang menjadi kawan jalan saya sambil ngobrol sepanjang 2 km di kawasan Thamrin, kami menerobos bundaran HI bersama. Ibu-ibu itu kakinya kram, tapi karena ngobrol jadi mungkin lumayan berkurang. Saya meninggalkan ibu itu di tenda Salonpas, sekitar 1 km dari garis finish. Saat itu saya mulai lari lagi.

Akhirnya setelah berhenti lagi dua kali di perempatan Sarinah karena lampu merah dan di lampu merah sebelum monas untuk kasih jalan ke bus Transjakarta, saya berhasil finis Half Marathon pertama saya tahun 2017 ini. Hasilnya memang jauh dari target, tapi gak apa-apa deh yang penting foto-foto saya yang dipublish bagus-bagus. 


Senin, 23 Oktober 2017

Sepatu Juga Punya Cerita

Satu bulan lebih saya absen dari menulis blog. Padahal banyak yang mau diceritakan dari perjalanan ke banyuwangi, baluran dan ijen bulan agustus lalu. Minggu lalu saya sempat ikut acara yang diadakan alumni kuliah saya, lari relay dari jakarta ke bandung lewat puncak, 16 orang. Minggu depan saya juga lari Half Marathon di Jakarta Marathon. 

Tidak seperti persiapan HM tahun lalu, HM kali ini agak keteteran latihannya. Sejak awal tahun sebenarnya latihan lari saya sudah mulai keteteran, pace dan jarak long run menurun drastis. 3 bulan terakhir saya baru mulai bisa mengatur kembali pola latihan, hingga saat ini sih lumayan ada peningkatan walaupun rasanya kayak mulai dari nol lagi.

Saya mulai gandrung lari tahun 2013. Sebenarnya kalau joging pagi-pagi waktu wiken sih sudah lama. Saya sudah mulai pakai aplikasi lari sejak masih pakai Blackberry, waktu itu saya pakai endomondo. Saat itu saya kalau lari rutenya cuma keliling satu blok yang jaraknya tidak sampai 2km. Baru sekitar tahun 2013 saya menemukan hype-nya para runner yang punya blog dan vlog di youtube. Waktu itu mungkin sudah ada acara race dan komunitas lari di jakarta, tapi mungkin tidak seheboh sekarang, dan karena gak ada kawan-kawan disekitar saya yang join begituan jadi saya juga gak tahu.

Niat rajin lari sudah ada dari tahun 2011, yang diawali dengan beli sepatu. Waktu itu saya tidak riset mengenai sepatu yang mau saya beli. Saya beli hanya karena keterangannya running shoes, warnanya biru muda fav saya dan diskon 30%. Bisa dibilang itu sepatu lari serius saya yang pertama, Reebok, tipenya saya juga tidak tahu. 

Sempat beberapa saat lari rutin di taman belakang kantor dan keliling komplek, saya kena demam berdarah komplikasi tipus yang membuat sepatu reebok biru harus cuti. Hingga tahun 2013, saya berniat mau hiking ke Rinjani, tapi setelah baca sana-sini sepertinya persiapan fisik sangat diperlukan. Kemudian saya install aplikasi nike run di iphone saya, membeli treadmill dan mengeluarkan sepatu Reebok biru dari dalam dusnya. Dalam beberapa bulan, dari jarak tempuh yang hanya berkisar 2km-an saya berhasil mencapai 5km pertama saya di tahun 2013 itu pakai Reebok biru. Saya baru ke rinjani tahun 2014, menggunakan sepatu rebook biru yang kemudian saya kasih nama sepatu Rinjani. 

Untuk menghadiahi pencapaian lari karena telah menembus 5km, saya membeli sepatu lari serius saya yang kedua yaitu Nike Free. Ketika beli yang ini saya sudah mulai riset sedikit-sedikit. Saya suka sih pakai Nike Free karena ringan banget. Saya pun makin semangat lari di treadmil, di taman tebet dan komplek. Saat-saat itu saya juga ikut Bikram Yoga selama 2 bulan dan sempat ikut latihan Muaythai di tebet. Badan terasa fit banget jaman-jaman itu. Kemacetan Jakarta belum separah sekarang jadi entah kenapa waktu dan energi saya berasa jauh lebih banyak. 

Walaupun terasa fit dan hiking rinjani terlaksana, namun hingga tahun 2015 jarak lari saya gak pernah lebih dari 5km-an. Sepatu Reebok biru sudah koyak-koyak karena saya pakai ke Rinjani, jadi saya beli sepatu Reebok lain sebagai gantinya. Sepatu Reebok yang ini pun saya tak tahu tipenya. Waktu itu targetnya hanya mau cari running shoes yang harganya dibawah 1jt, jadi saya tetap punya dua sepatu lari untuk ganti-ganti. Sepatu rebook yang kedua itu kelak adalah sepatu yang saya gunakan untuk naik ke Ijen, sehingga sekarang saya kasih nama Sepatu Ijen.

Di tahun 2015 saya baru bikin target untuk menembus 5km, yaitu lari 10km pada saat ulang tahun saya alias birthday run. Jadi butuh waktu hampir 2 tahun buat saya, dari 2013 ke 2015, untuk mencapai jarak lari 10km. 

Awal tahun 2016 secara impulsif saya ikut mendaftar Race pertama saya, langsung Half Marathon! 21.1 km, dua puluh satu koma satu kilo meter. Jarak dari rumah saya ke kantor saja hanya 11km. Half Marathon itu nyaris jarak Pulang Pergi dari rumah ke kantor saya. Saya hanya punya waktu kurang dari setahun untuk persiapan. Tapi cukup sih, saya latihan pakai program training yang ada di aplikasi nike run. Selain itu saya juga mulai riset soal makanan dan latihan-latihan lain untuk menunjang lari, seperti strength training buat core dan yoga untuk strecthing. 

Kebetulan ketika lagi jalan-jalan di Lotte Avenue ada counter sepatu Asics yang lagi sale. Lumayan banyak diskon cuci gudangnya, akhirnya saya beli Asics GT-1000, yang hingga saat ini masih jadi sepatu favorit karena paling enak dipakai walaupun berat. Ganti dari Nike Free yang ringan banget ke Asics lumayan terasa di kaki, waktu pertama saya pakai mulai berasa di kilometer ke-6. Tapi lama-lama terbiasa juga sama beratnya. 

Beberapa bulan yang lalu sepatu Nike Free yang saya beli tahun 2013 sudah waktunya pensiun. Kalau dipakai lari agak jauh terasa keras lama-lama kayak telapak kaki langsung injak aspal. Tapi karena penampilannya masih bagus, sekarang masih saya gunakan untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini, saya memutuskan beli Nike Pegasus untuk ganti Nike Free karena Nike Pegasus lebih cocok untuk long distance running - menurut beberapa sumber yang saya baca.

Ternyata nyaman juga pakai Nike Pegasus. Walaupun tidak seempuk Asics kalau dipakai lari jarak jauh tapi lebih ringan. Harganya juga lebih murah dari sepatu Nike lain yang untuk long distance running walaupun gak murah juga ya, sampai sekarang masih suka nyesek kalau injak becek

Khusus untuk lari saya rela deh keluar uang lebih untuk beli sepatu, karena sepatu itu penting untuk mencegah cedera dan juga untuk kenyamanan. Alhamdulillah sampai sekarang saya belum merasakan sakit lutut atau sakit-sakit aneh lainnya di kaki, palingan pegal aja kalau habis lari lebih jauh dari biasanya. Kalau baju sih saya gak beli yang mahal-mahal, kadang kaos yang enak dipakai lari itu yang sudah lemes karena dipakai tidur. Sekarang-sekarang malah saya kalau lari pakai kaos seragam dari acara race.

Yah jadi itu lah kisah-kisah sepatu dan mantan sepatu yang telah menemani saya berlari dari kenyataan hidup mulai dari tahun 2011 hingga sekarang. Kadang kalau lihat sale sepatu atau lihat sepatu model baru rasanya pingin beli, tapi kalau diturutin beli sepatu terus gak punya ongkos buat travelling lagi donk.

Minggu, 03 September 2017

Birthday Trip 2017 : The Beginning

Ini cerita tentang birthday trip. Sepertinya trip semacam ini akan jadi ritual, setiap tahunnya saya akan melakukan satu perjalanan yang ada misinya di hari ulang tahun. Tahun lalu saya lari half marathon untuk pertama kalinya di Maybank Bali Marathon. Tahun ini misi saya adalah menyusuri pulau Jawa dari Barat ke Timur dengan kereta api dan melihat sunrise di ujung timur Pulau Jawa. Misi ini membawa saya ke Banyuwangi. 

Awalnya saya merancang perjalanan ini untuk solo backpacker karena di usia yang sekarang agak susah mengajak kawan-kawan sebaya untuk ikut traveling, karena di umur-umur segini lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan dan keluarga, kebanyakan kawan saya pada punya baby atau balita. Karena itu pula saya memilih lokasi selanjutnya yaitu Ijen. Secara tidak sengaja saya pernah dengan ada bapak-bapak di kantor yang bilang kalau Ijen itu artinya “sendiri”. Seketika itu saya putuskan mau ke Ijen. Kebetulan searah dengan misi matahari terbit. 

Meanwhile lagi di daerah sana, sekalian saja ke Taman Nasional Baluran. Sudah lama saya kepingin kesana, Little Africa in Java. Saya belum pernah ke savana. Tince sudah mendahului saya pergi ke Baluran tahun lalu bersama keluarganya dan menyewa resort disana, jadi saya tinggal ikuti jejaknya Tince. Kalian bisa kenalan lagi sama Tince di postingan birthday trip saya tahun lalu. 

Sebulan sebelum pergi Pagit memutuskan ikut. Setelah cutinya di approved kantor, kami langsung pesan tiket. Diluar dugaan ada satu lagi yang gabung, Susi. Perjalanan yang tadinya saya pikir akan saya jalani sendirian (seperti kemungkinan besar sisa hidup saya beberapa tahun mendatang), berubah menjadi perjalanan pakai hashtag girlsquad atau boleh juga hashtag TimBaluran. 

Rencana awal pulang dan pergi mau pakai kereta, tapi setelah pesan tiket berangkat baru sadar kalau tanggal 1 september - dimana trip berakhir, bertepatan dengan Idul Adha. itinerary pun direvisi. Kami pulang lebih awal 2 hari dari yang direncanakan, menggunakan pesawat dari Surabaya dan menambah satu hari untuk jalan-jalan di kota Surabaya. 

Kami berangkat jam 10 pagi dari stasiun kereta Pasar Senen naik kereta Ekonomi-AC. Saya pernah tulis kalau perkembangan kereta api tahun-tahun belakangan ini luar biasa meningkat, jadi jauh lebih nyaman. Bahkan sekarang kalau mau tukar bookingan tiket tidak perlu antri di loket, langsung print boarding pass di mesin yang sudah disediakan. Keretanya pun sekarang bersih dan dingin karena dipasang AC walaupun kereta Ekonomi. 

Tempat duduk di kereta ekonomi memang lebih padat dari kereta bisnis dan eksekutif, tapi buat saya sih tidak masalah. Apalagi kebetulan kami dapat tetangga tempat duduk yang seru, seorang laki-laki muda dan seorang ibu-ibu dengan anak balita perempuannya. Dengar cerita mereka tentang masa-masa kelam kereta ekonomi jaman dulu, saya jadi makin takjub dengan transformasi PT. KAI. Bukan hanya keretanya, tapi stasiun-stasiunnya terlihat jauh sangat berbeda. Kalau naik kereta di Jawa sekarang sudah tidak kalah dengan waktu saya naik kereta dariMelbourne ke Ballarat di Australia

Tidak ada kereta langsung dari Jakarta ke Banyuwangi, kami harus turun dan ganti kereta dari Jogja atau Surabaya. Karena waktunya lebih pas, maka kami transit di Surabaya dan lanjut naik kereta lain ke Banyuwangi. Kereta dari Jakarta tiba tepat waktu di Stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 1.30 dini hari. Kereta dari Surabaya ke banyuwangi berangkat jam 4 dan tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 11. 

Keluar dari stasiun kami di sambut oleh orang-orang yang menawarkan transport ke kota. Ternyata kotanya jauh dari stasiun banyuwangi baru, tapi kalau mau ke Pelabuhan Ketapang tinggal menyebrang jalan. Kami melewati semua orang yang menawarkan transport tapi ada satu bapak-bapak di angkot yang saya tanya, apakah angkotnya lewat ke hotel watu dodol atau tidak. Disitu tempat kami menginap. Ternyata tidak lewat, tapi si bapak menawarkan untuk mengantar. 

Awalnya kami mengelak dengan bilang mau cari makan dulu karena lapar. Kami jalan sampai ke jalan raya dan makan di depot dekat stasiun. Ketika kami keluar mau menunggu angkot, tiba-tiba si bapak angkot kuning muncul. Ya akhirnya kami naik angkot itu juga, dengan membayar 20 ribu per orang hingga tiba ke hotel. Kelak angkot kuning itu pula yang mengantar kami hingga ke Taman Nasional Baluran.

TimBaluran dan angkotnya (photo credit: susi)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...